Wawancara masduki - 03 September 2017 154

Sinabung yang sedang bekabung     Dok. Pribadi

 

      Langit mendung dan suasana siang  yang tidak begitu bersahabat menyambut kehadiran kami dalam rutinitas warga didesa Guru Kinayan yang terletak di lereng gunung sinabung, kabupaten Karo Sumatera utara. Udara segar bercampur abu  menemani aktifitas warga sehari-hari. Ada yang berkutat dengan hasil panen tomat yang gagal dan ada pula ibu-ibu yang sdang menikmati daun sirih sambil mengamati aktivitas gunung sinabung. Ada juga yang terus mengais pasir di sungai guru kinayan. Ya, Aktivitas warga didesa itu tidak hanya berdiam diri dan menunggu bantuan dari pemerintah yang bisa dikatakan jauh dari cukup.

      Hari menjelang siang, matahari yang tadinya memancarkan kehangatan berganti suasana dengan jatuhnya hujan di kampung ini. Perlahan para pekerja penambang pasir salah satunya Sabar seorang warga Sibintung yang mengungsi ke desa Guru Kinayan, mulai menghentikan aktivitasnya.  Sambil berkemas beliau bercerita bahwa pekerjaan ini  terpaksa belau kerjakan sejak empat bulan lalu sepulangnya dari posko pengungsian. Sebelumnya Sabar  bekerja dengan berladang dan bertani yang saat ini beralih profesi sebagai penambang pasir . Seperti biasanya ketika hujan turun pemilik aliran sungai akan menghentikan aktivitas para pekerja dan menutup aliran sugai guna menghindari lahar dingin yang dapat kapan saja terjadi. Meletusnya gunung Sinabung tak menyurutkan semangat Bapak Sabar warga sebintung yang mengungsi didesa Guru Kinayan. Bekerja sebagai penambang pasir belumlah bisa dikatakan cukup karena rata-rata dalam sehari beliau hanya bisa mendapatkan penghasilan sekitar lima puluh ribu rupiah belum dipotong biaya makan dan rokok. Di sisilain, measkipun awan panas gunung sinabung telah menghancurkan rumah dan ladangnyanya, namun semangat hidup terus beliau jaga guna menghidupi istri dan kedua orang anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

      Tak terasa haripun sudah mulai sore, obrolan saya dengan sang pemilik aliran sungai yakni Sahabat Sumbiring juga semakin intensif. Pria bertopi ini dengan santai menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan. Berbicara mengenai penghasilan, sebenarnya profesi ini beliau lakukan bukan semata-mata untuk mencari keuntungan semata. Akan tetapi, Sahabat Sobiring  lebih menekankan pada keuntungan secara emosional, dalam arti menanamkan semangat hidup bahwa bencana bukanlah segalanya, banyak hikmah yang dapat mereka raih dengan bekerja. Pekerjaan ini beliau lakukan untuk mengelola para warga korban letusan gunung Sinabung. Dimulai Sejak setahun lalu ketika beliau dipercaya untuk menjadi pengepul pasir dan pengelola sungai tersebut.


Sabar seorang penambang pasirSabar, Seorang penambang pasir sedang mengumpulkan kubik demi kubik pasir di Sungai Guru Kinayan

 

      Satu demi satu para penambang  pasir pun mulai bergegas dan memasukan kumpulan pasir yang telah mereka kumpulkan kedalam truk yang sudah siap menampungnya. Saat diamati lebih jelas ada yang berbeda dari penerimaan hasil yang mereka dapat, Yang menonjol adalah satu meter kubik pasir yang dikumpulkan dihargai Rp 30.000,- dibagi dua dengan pemilik sungai.  Tuntutan hidup yang terus berjalan tak membuat Sahabat Sumbiring kesulitan mencari pekerja penambang pasir, karena warga secara sukarela menawarkan tenaganya untuk menjadi seorang pekerja.

     Sahabat Sumbiring, dengan ciri khasnya yakni berkaca mata dan bertopi menyampaikan harapan-harapan beliau kepada pemerintah untuk segera memberikan bantuan dan memperbaiki infrastruktur yang rusak akibat letusan gunung sinabung yang terjadi  sejak setahun silam. Ya paling tidak bantuan terus mengalir karena sudah 3 bulan ini bantuan macet. Dan jika memang warga yang rumahnya rusak dan tidak boleh kembali ke kampunya ya haruslah ada relokasi karena  kasihan kan kebanyakan para penambang pasir  adalah pengungsi dan mereka disini mendirikan rumah sementara itupun tanah yang mereka tempati sewa ke penduduk sekitar.

     Diakhir pembicaraan, Sumbiring juga tak lupa memberikan “wejangan” terhadap para pemuda, terutama mahasiswa untuk tetap berkarya, meskipun banyak cobaan dan ujian dari Tuhan. “Tetap bekerja meskipun pekerjaan yang dilakukandan penghasilan yang diterima belum layak, Karena dengan bekerja kita bisa menyembung hidup dan menafkahi keluarga. “ Pungkas Sahabat Sembiring.

Recent News

Terhangat

Merchandise

Media Social

Facebook




Twitter

Instagram