Sumbangan Tulisan Ilham Fadhillah Amka - 04 Mei 2018 2065

 Sumber: Jaringan Pemberitaan Pemerintah

jpp.go.id/__srct/040251034c86faf43c86c84e84be467b/314818/edaf604631ebee1b02c2a7a4dc00a68f.jpg 

Hadirnya revolusi industri keempat merupakan salah satu sebab munculnya pro dan kontra di antara masyarakat Indonesia khususnya. Bagaimana tidak, tentu diperkirakan dengan melonjaknya usia produktif pada populasi di Indonesia, akan sangat mempengaruhi bagaimana masyarakat Indonesia yang memiliki usia produktif dapat memaksimalkan kinerjanya dalam kehidupan sehari-hari dan mampu beradaptasi dengan berbagai revolusi yang terjadi pada dunia masa kini.

Sebelum membahas revolusi industri keempat dan apa kaitannya dengan Indonesia dimasa yang akan datang, ada baiknya kita sedikit melihat kembali sejarah berkembangnya revolusi industri dari masa ke masa. Revolusi industri yang pertama pada tahun 1780 ditandai dengan munculnya mesin-mesin dengan menggunakan tenaga uap yang berbahan bakar kayu dan batu bara. Indonesia pada masa itu masih dikenal dengan Hindia-Belanda. Kemudian dunia kembali berevolusi dengan revolusi industri yang kedua, yang ditandai oleh berkembangnya mesin-mesin yang sudah menggunakan bahan bakar minyak dan beberapa sudah menggunakan listrik pada tahun 1870. Lalu pada awal abad ke-20, industri di dunia juga kembali berevolusi menjadi revolusi industri yang ketiga. Pada masa revolusi industri inilah kita mengenal mesin dengan beberapa otomatisasi, yang akan membuat suatu pekerjaan akan lebih efektif dan efesien. Dunia lalu dihebohkan dengan penemuan-penemuan terbaik pada masa itu, seperti tekik nuklir dan bagaimana mengimplementasikannya untuk digunakan menjadi teknologi terbaharu yang sangat berguna.

Lalu dimulai dari tahun 2016, semenjak dunia masa kini sangat diramaikan dengan penggunaan internet, muncul lah sebuah revolusi industri yang baru yakni revolusi industri keempat. Pada dasarnya, revolusi industri keempat ini berfokus pada kemajuan teknologi masa kini, terlebih dengan adanya internet. Diharapkan dengan adanya revolusi industri keempat ini, akan lebih bermanfaat dalam dunia industri. Pada revolusi industri keempat ini kita akan mengenal apa itu kecerdasan buatan, internet of things, cloud computing, dan beberapa kemajuan dalam teknologi terbaharu, yang akan diimplementasikan kepada dunia industri itu sendiri. Mesin yang satu ke mesin yang lainnya akan dapat mudah berkomunikasi dengan menggunakan internet, hal ini akan sangat membantu efektifitas dalam industri.

Menurut data dari proyeksi penduduk Indonesia oleh Badan Pusat Statistik, Indonesia pada rentang tahun 2020-2035 diperkirakan akan mendapatkan bonus demografi dimana sekitar 70% dari populasi di Indonesia adalah masyarakat dengan rentang usia 15-64 tahun. Diperkirakan total populasi usia produktif di Indonesia pada masa 2020-2035 mencapai 180 juta jiwa, dan total populasi pada usia tidak produktif dalam arti usia ketergantungan hanya 60 juta jiwa. Kalau kita membandingkan pada angka ini, kita dapat melihat ada perbandingan 10 berbanding 3, artinya akan ada 10 orang dengan usia produktif yang akan menanggung 3 orang saja. Tentu hal ini dapat dikatakan sebuah “bonus” apabila harapan-harapan bangsa dapat tercapai dengan hadirnya bonus demografi ini.

Disatu sisi, sebagian dari masyarakat Indonesia memandang revolusi industri keempat adalah sebuah keniscayaan, dimana Indonesia akan mampu meningkatkan efektifitas dalam sektor industri khususnya manufaktur. Revolusi industri keempat hadir bersama meningkatnya kemajuan dari internet, yang semula hanya digunakan untuk kemudahan informasi dan berkirim pesan, lalu bertrasnformasi menjadi internet of things, robotic, dan cloud computing. Tentu era revolusi industri keempat ini sudah ada didepan mata kita semua. Oleh karena itu isu dari ketenagakerjaan selalu hadir ketika adanya sebuah revolusi dalam industri.

Revolusi industri keempat ini dipercayai akan mengubah mekanisme manusia dalam bekerja. Beberapa hal yang semestinya dikerjakan oleh manusia, namun kini sedikit tergantikan dengan adanya beberapa revolusi dalam industri ini. Kita bisa melihat kenyataan pada saat ini, beberapa negara maju telah menyiapkan sistem 3D Printing in Construction. Dengan kecanggihan dari teknologi, untuk membuat konstruksi rumah tidak lagi memerlukan bantuan pekerja yang profesional, namun akan digantikan oleh mesin dengan konsep kecerdasan buatan. Pada Indonesia sendiri, kita sempat mendengar kabar tentang kekhawatiran para pekerja kasir tol setelah keputusan atas implementasi kewajiban dalam transasksi non-tunai. Kehadiran dari kasir penjaga pintu tol tidak lagi diperlukan dikarenakan masyarakat diwajibkan untuk menggunakan kartu elektronik sebagai alat pembayaran.

Salah satu dampak dari revolusi dalam industri yang bisa kita lihat pula adalah perbankan di Indonesia, yang terjadi karena kemajuan dari teknologi. Jika dulunya kita melihat panjangnya antrian pada kantor bank-bank yang ada di Indonesia, sekarang antrian itu berangsur sepi. Pihak bank pun saat ini sudah tidak banyak lagi membuka kantor cabang mereka. Hal ini terjadi karena adanya sebuah revolusi dalam industri masa kini. Masyarakat masa kini hanya perlu menggunakan gadget mereka dalam bertransaksi sehari-hari. Dengan hanya menggunakan aplikasi yang disediakan oleh pihak bank dan beberapa instansi lain, nasabah tidak perlu antri dan datang jauh-jauh ke kantor cabang. Masyarakat masa kini rata-rata sudah mengenal apa itu mobile banking dan internet banking.

Kembali lagi pada bahasan bonus demografi yang hakikatnya ialah sebuah pemicu tumbuhnya ekonomi yang baik pada Indonesia yang akan datang. Dengan modal jumlah yang banyak pada sumber daya manusia yang produktif tentu akan membantu beberapa proyek pembangunan nasional dengan skala besar dan diharapkan dapat terealisasi. Namun bersebrangan dengan hal ini, apabila bonus demografi tidak dikelola dengan baik, ini akan menjadi beban pada Indonesia. Indonesia akan dihadapkan pada isu tingkat pengangguran yang tinggi dan tentu akan diiringi isu kriminalitas yang merajalela.

Namun, ternyata setelah World Economic Forum dalam beberapa waktu lalu sedikit menjawab kekhawatiran ditengah masyarakat Indonesia. Hadirnya kecerdasan buatan, robot, dan penerapan pada revolusi industri keempat ini malah akan membuka banyak jenis lapangan kerja yang baru, artinya bukan pada pengangguran massal. Otomatisasi pada beberapa ruang lingkup industri bukanlah menjadi penghalang untuk mendapatkan pekerjaan, namun akan membuka peluang kerja pada bidang yang lain. Beberapa pakar ekonomi berpendapat bahwa, permasalahan yang ada ketika adanya bonus demografi dan munculnya revolusi industri adalah bukan pada hilangnya atau tergantikannya pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh manusia, namun permasalahan yang sebenarnya adalah kurangnya kemampuan yang tepat dan sesuai dalam jenis pekerjaan pada masa yang akan datang.

Saat ini jika kita sedikit melihat apa saja bentuk semangat dan kegigihan Indonesia dalam beradaptasi dengan adanya revolusi industri keempat ini adalah kita bisa melihat bagaimana pemuda-pemudi Indonesia mulai masuk pada ranah tren masa kini yakni bidang startup dan fintech. Beberapa tokoh muda mulai hadir menjadi seorang CEO, Founder dalam berbagai bentuk bisnis yang tentunya akan membuka banyak lapangan pekerjaan yang baru. Namun tidak hanya dari segi perseorangan yang ada di Indonesia, kita juga bisa melihat bagaimana tiap kota di Indonesia berlomba-lomba menjadikan kotanya dengan basis teknologi yang baik. Setiap kota di Indonesia saat ini berkompetisi untuk mempersiapkan sumber daya manusia dengan talenta terbaik. Istilah “smart city” yang sering kita dengar saat ini adalah salah satu bentuk bagaimana setiap kota di Indonesia sedang mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas yang akan membantu kemajuan teknologi tiap daerah tersebut.

Melihat fakta-fakta pada semua hal ini, tentu kita akan bertanya, lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Revolusi industri sudah memulai langkahnya, dan akan terus berjalan. Saat ini kita dipertanyakan apakah hanya akan menjadi penonton sebuah revolusi dan hanya menjadi korban sebuah disrupsi inovasi, atau akan menjadi pelaku utama pada revolusi industri ini. Yang jelas, tentu sebuah inovasi memerlukan semangat jiwa para pemuda khususnya Indonesia yang akan menghadapi bonus demografi ini.

Revolusi industri yang sekarang kita hadapi ini memberi tahu bahwa globalisasi tidak hanya menuntut untuk kemampuan dalam berbahasa inggris, namun juga bahasa pemrograman. Pemuda dituntut agar mampu tidak hanya berkomunikasi pada masyarakat dunia luas, namun juga kemampuan dalam berkomunikasi pada canggihnya teknologi terbaharu. Dengan inovasi pada jiwa pemuda masa kini, hal itulah yang akan membantu terciptanya beberapa lapangan pekerjaan yang baru yang akan sangat mempengaruhi bonus demografi pada Indonesia.

(Ilham Fadhillah Amka/Ajeng)

Terhangat

Media Social

Facebook




Twitter

Instagram