Sumbangan Tulisan Muhammad Irfan Basyarahil - 01 Juli 2019 403

Tidak pernah terpikiran oleh mereka untuk lahir dan tumbuh besar di negara tetangga, jauh dari kota asal orangtuanya. Tidak pernah terbesit dalam pikiran mereka berada di tempat sekarang dengan status yang tidak pasti. Tidak punya pilihan selain menjadikan diri mereka sebagai perantau muda sejak dini.  Anak-anak ini jelas tidak seberuntung anak kebanyakan, tapi harapan tetap harus dikejar sekaligus dibantu untuk mewujudkannya.

            Sebagai anak para pekerja Indonesia yang “bermigrasi”  ke negeri seberang, jumlah mereka sangat banyak, dan terus bertambah. Menurut data dari Indonesian Economic and Financial Statistics, Bank Indonesia, hingga 2017 awal, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia merupakan jumlah terbanyak dibandingkan dengan negara lain dengan selisih yang jauh berbeda (1.873.000 jiwa). Tentunya, jumlah tersebut belum termasuk mereka yang datang dan belum terdata karena status legal sebagai pekerja.

 

            Mereka berkeluarga dan mempunyai keturunan, rantai tersebut akan tetap ada tanpa tau kapan ada habisnya. Perantau muda ini juga belum tentu bisa mendapatkan fasilitas fundamental mereka. Ketika kita berbicara hak untuk mendapatkan akses kesehatan dan pendidikan serta kebutuhan dasar lain terbatasi oleh status mereka sebagai manusia yang tidak diakui keberadaannya. Dengan perencanaan panjang, terbentuklah kesepakatan untuk menyediakan fasilitas sebagai pemenuhan hak akses pendidikan di dua titik wilayah semenanjung dan satu berlokasi di Sabah.

            Penilaian ini berdasarkan observasi lapangan saat berkesempatan menjadi relawan singkat sebagai pengajar di sekolah non-formal, Klang. Di lokasi yang serba terbatas dan memanfaatkan ruang-ruang kecil dibawah tempat tinggal sederhana para pekerja, mereka dibagi menjadi beberapa kelas besar. Beberapa tingkatan kelas Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) mengisi petak kecil tepat di sebelah masjid warga. Jumlah guru yang sangat jauh dari kata sesuai, fasilitas yang jauh dari terdukungnya proses belajar-mengajar, lingkungan yang tidak suportif untuk berkembangnya mereka sebagai pelajar, hal-hal ini yang terlintas dalam pikiran ketika kilas balik pengalaman tersebut. Dengan segala upaya untuk tetap mempertahankan pusat belajar ini sebagai pemenuhan hak Warga Negara Indonesia, mereka yang ikhlas mengabdi untuk memperjuangkan keberadaan tempat ini.

Dalam proses belajar, sangat sulit untuk mengkondisikan kelas menjadi kondusif dan ideal untuk mentransfer materi dan berkegiatan. Karakter mereka yang lebih terbentuk lewat kurang sempurnanya proses pendidikan dan sosialisasi in-formal yang diperkuat oleh lingkungan tempat tinggal yang rasanya memberikan pengaruh lebih dari apa yang diajarkan di dalam sekolah. Jumlah yang tidak sebanding dengan banyaknya guru, membuat kejadian seperti siswa naik ke atas meja dan konflik antar mereka sangat biasa, bahkan sering diakhiri dengan baku hantam. Pada akhirnya, proses belajar-mengajar juga belum tersampaikan secara sempurna akibar distraksi oleh hal-hal yang sebenarnya sangat sulit di kontrol oleh pendidik itu sendiri.

Terlepas dari itu semua, kemauan mereka untuk datang ke sekolah dengan segala keterbatasan yang ada dan usaha orangtua untuk setidaknya mengizinkan mereka mendapatkan haknya dengan tidak mengikutsertakan mereka mencari nafkah patut diapresiasi dan didukung. Meluangkan waktu untuk bermain di jalan dan lebih memilih untuk berjalan cukup jauh ke sekolah dan pengorbanan para orangtua untuk membayar iuran dalam keterbatasan finasial pun juga harus diapersiasi. Para perantau cilik ini bukan memilih untuk menghadapi kondisi demikian, mereka berusaha untuk keluar dari zona ini untuk mendapatkan penghidupan yang lebih layak, dan satu jalan yang paling realistis dan masuk akal adalah lewat pendidikan. Dalam proses pembelajaran sekaligus pengamatan pada waktu itu, banyak sekali hal baru yang bisa dipelajari dari para siswa, ketika energi positif mereka menutupi kekurangan dalam hal akademis dan keterampilan. Ketika mereka terus diasah dan mendapatkan pendidikan yang sesuai, sangat mungkin bagi perantau cilik untuk memutus rantai ini.

            Penyambutan dan perpisahan dari murid-murid ini menunjukkan betapa butuhnya mereka bantuan dan perhatian dari pihak luar, dan kemauan mereka untuk tetap menjalankan program wajib belajar inilah yang harus tetap dijaga. Tentu bukan tugas ringan dan dibebankan kepada pihak tertentu saja, pemerintah, masyarakat, dan khususnya mahasiswa harus terlibat aktif didalamnya, untuk setidaknya peduli dalam masalah-masalah nyata ini.

 

Muhammad Irfan Basyarahil

Bachelor of Business Administration

University of Malaya