Sumbangan Tulisan Taufik Surrahman - 28 Agustus 2019
  Menurut Andi Nurbaethy, teori cinta dalam pemikiran Islam menempati posisi penting sebagai salah satu elemen utama dalam perbincangan tentang relasi manusia baik dengan Sang Pencipta maupun dengan alam atau sesama mahluk lainnya. Seiring dengan perjalanan zaman, ajaran cinta, dengan karakter universalitas natural serta keintiman personal yang dimilikinya, semakin mendapatkan tempat dalam skala global dalam kaitannya dengan pemikiran tentang hakikat kemanusiaan. Salah seorang pemikir Islam yang menawarkan konsep cinta dalam kaitannya dengan hakikat kemanusiaan adalah Sir Muhammad Iqbal, yang sangat terpengaruh oleh Jalalluddin Rumi, “The Prophet of Love.” Iqbal mengurai konsep cintanya dalam skema penyempurnaan diri menuju penyatuan abadi dengan Sang Khalik. Pembahasan tentang cinta sudah mewarnai diskusi-diskusi penting sepanjang sejarah pemikiran Islam. Konsep cinta yang secara filosofis pada dasarnya mengisyaratkan hasrat pihak yang tidak sempurna menuju kesemp
Sumbangan Tulisan HUDZAIFAH ACHMAD QOTADAH - 28 Agustus 2019
  Manusia merupakan makhluk sosial, makhluk yang tidak mungkin hidup secara individu tanpa memerlukan kehadiran orang lain di sekitarnya. Karena itu, manusia sejatinya sangat membutuhkan peranan orang lain dalam menjalankan sebuah aktivitas dan salah satunya ialah penggunaan bahasa untuk berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya baik itu individu dengan individu, individu dengan kelompok ataupun kelompok dengan kelompok dan interaksi tersebut dilakukan melalu perantara bahasa yang saling dipahami satu sama lain. Hal demikian juga berlaku di kehidupan perkuliahan, ketika kita memutuskan untuk memilih kuliah di luar negeri maka kita pastinya memerlukan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa yang dapat dipahami orang lain seperti bahasa Inggris atau bahasa yang menjadi standar khusus yang diterapkan oleh sebuah universitas.             Oleh karenanya, bahasa merupakan hal amat krusial serta hal yang pertama kali sering ter
Sumbangan Tulisan Shafwatul Bary Tuanku Imam - 28 Agustus 2019
  Minangkabau (Sumatera Barat, Indonesia) adalah negeri yang sangat menjunjung tinggi dan menghargai hak-hak perempuan, terbukti dengan sistemadat matriarkalyang menjadi acuan dalam beberapa gerak-gerik masyarakat beradat. Wacana feminismedan peduli hak-hak perempuan, sejak lama sudah mengakar dan terpraktiksecaramasifdi negeri ini. Namun, sebagai suatu sistem adat yang digagas oleh para leluhur dengan penuh kebijaksanaan dan pertimbangan yang matang –bahkan menjelimet—,melihat dan memahaminya tidak bisa hanya menggunakan kacamata aktual-empiris semata, tapi menggunakan kacamata “hikmah” dan “akibat”. Sehingga, untuk memahamisistemmatriarkal Minang ini mensyaratkan kearifbijaksanaan.   Ulama (tokoh agama), merupakan salah satu fondasipenting keberlangsungan hidup masyarakat madani di Minangkabau, otoritasnya dipegang tiga unsur sekaligus, sebuah adagium filosofis Minang menyebut “Tungku Tigo Sajarangan, Tali Tigo Sapilin&rdqu
Sumbangan Tulisan Muhammad Irfan Basyarahil - 01 Juli 2019
Tidak pernah terpikiran oleh mereka untuk lahir dan tumbuh besar di negara tetangga, jauh dari kota asal orangtuanya. Tidak pernah terbesit dalam pikiran mereka berada di tempat sekarang dengan status yang tidak pasti. Tidak punya pilihan selain menjadikan diri mereka sebagai perantau muda sejak dini.  Anak-anak ini jelas tidak seberuntung anak kebanyakan, tapi harapan tetap harus dikejar sekaligus dibantu untuk mewujudkannya.             Sebagai anak para pekerja Indonesia yang “bermigrasi”  ke negeri seberang, jumlah mereka sangat banyak, dan terus bertambah. Menurut data dari Indonesian Economic and Financial Statistics, Bank Indonesia, hingga 2017 awal, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia merupakan jumlah terbanyak dibandingkan dengan negara lain dengan selisih yang jauh berbeda (1.873.000 jiwa). Tentunya, jumlah tersebut belum termasuk mereka yang datang dan belum terdata karena status legal sebag
Sumbangan Tulisan Ilham Fadhillah Amka - 04 Mei 2018
 Sumber: Jaringan Pemberitaan Pemerintah jpp.go.id/__srct/040251034c86faf43c86c84e84be467b/314818/edaf604631ebee1b02c2a7a4dc00a68f.jpg  Hadirnya revolusi industri keempat merupakan salah satu sebab munculnya pro dan kontra di antara masyarakat Indonesia khususnya. Bagaimana tidak, tentu diperkirakan dengan melonjaknya usia produktif pada populasi di Indonesia, akan sangat mempengaruhi bagaimana masyarakat Indonesia yang memiliki usia produktif dapat memaksimalkan kinerjanya dalam kehidupan sehari-hari dan mampu beradaptasi dengan berbagai revolusi yang terjadi pada dunia masa kini. Sebelum membahas revolusi industri keempat dan apa kaitannya dengan Indonesia dimasa yang akan datang, ada baiknya kita sedikit melihat kembali sejarah berkembangnya revolusi industri dari masa ke masa. Revolusi industri yang pertama pada tahun 1780 ditandai dengan munculnya mesin-mesin dengan menggunakan tenaga uap yang berbahan bakar kayu dan batu bara. Indonesia pada masa itu masih dikenal
Sumbangan Tulisan Hidayat - 19 April 2018
Hidayat  Divisi Keilmuan PPI Universiti Malaya The Government of Indonesia continually strives to increase the frequency, productivity, and welfare of the people who become Indonesian Migrant Workers (TKI) through various policy programs. Nowadays, the students who are from University of Malaya discussed the welfare of Indonesian Migrant Workers in Malaysia. There are several arguments which they proposed in the group of discussion forum. Numerous problems are from the people itself, the government policy, and the agency. However, the students also provide some possible opinions which they thought it will solve the problems of Indonesian Migrant Workers in Malaysia. On the one hand, there are a number of problems to be highlighted as the possible reasons of Indonesian Migrant Workers. Corruption as the first reason, many cases related to corruption in the implementation and the field, it is ranging from recruitment, document creation, placement, until the crossing back. In ad
Sumbangan Tulisan Rezzy Eko Caraka - 19 Maret 2018
Sifat manusia yang tidak puas dan kebutuhan yang terus meningkat. 2 faktor socio-economy tersebut berperan penting dalam berubahnya peradaban manusia. Diantara dari kita tidak asing dengan Namanya “Revolusi Industri” pada beberapa literature revolusi industri terjadi akibat dari berubah secara signifikan kehidupan manusia yang disebabkan oleh berkembangnya industri. Tercatat, sudah terjadi 4 revolusi industri mulai awal abad ke-18 dan abad ke 20. Sejarah revolusi industri dapat dilihat pada gambar dibawah ini   Pada beberapa negara konsep Revolusi Industri 4.0 sudah tidak asing lagi. Seperti, jika seseorang ingin membeli makanan hanya memesan via telfon dan kemudian pemilik jasa makanan tersebut akan mengantar pesanan kita dengan bantuan sebuah drone. Begitu juga dengan konsep Internet of Things (IoT) dengan hadirnya waze dan googlemaps yang memudahkan user dalam mengarahkan arah dan tujuan dengan tingkat error salah alamat yang sangat kecil.    &nb
Sumbangan Tulisan Afifah Dinar - 09 Maret 2018
Foto saat menghadiri Simposium   Menapakkan kaki untuk pertama kali di bumi Ali Jinnah, Pakistan. Sungguh pengalaman yang akan terus diingat dan diceritakan untuk anak cucu kelak.  Tahun ini simposium Timur Tengah dan Afrika  diselenggarakan di Islamabad Pakistan, 1 maret – 5 maret.  Acara yang bertemakan “Membumikan Nilai Islam dalam Praktik Bisnis Modern di Indonesia” ini  dihadiri oleh beberapa pakar ekonomi dari Indonesia. Seperti, Muhammad Syafi’i Antonio, Andreas Senjaya dan Bambang Suherman. Serta Pakar ekonomi dari Pakistan, Dr.Atiq uz Zafar.  Hasil dari  diskusi panel selama 3 hari ini akan  melahirkan pemikiran akademis bagi pengembangan dan penguatan pengkajian terhadap teori dan aplikasi sistem ekonomi islam pada praktik bisnis modern di Indonesia.  Acara hari pertama dibuka dengan “City Tour of Islamabad” agar para delegasi lebih akrab dan mengenal sedikit tentang culture di Pakistan.