Kajian Isu Strategis Mega Setya Indriani - 07 April 2019 122

 

Semua manusia memasuki pintu gerbang kehidupan melalui perempuan. Ketika kali pertama menginjakkan kaki di dunia, setiap dari kita pula dibimbing oleh insan bernama perempuan. Karena dalam diri setiap perempuan terdapat sifat cinta kasih dan memberi tanpa pamrih. Membicarakan soal perempuan dari segala penjuru dunia tentunya memiliki adat atau kebiasaan yang berbeda-beda. Ada yang mengekangnya teramat erat. Tubuhnya dipenjara, karena takut mengundang nafsu lelaki. Namun, peradaban lain menelanjanginya, keindahan ragawinya dijadikan pertunjukan murahan sebagai objek kepuasan kaum lelaki. Pada zaman dahulu pula di Indonesia. Perempuan tidak diberikan kesempatan untuk menilik pendidikan, merasakan kegiatan belajar dan mengajar. Karena pada ketika itu perempuan dan kecerdasan dianggap sebagai sumber pemberontakan yang dapat mengganggu harmoni masyarakat.

 

Perempuan, dalam kata lain wanita. Dari sudut filosofi Jawa, kata wanita terbentuk dari dua kata bahasa jawa (kerata basa). Yaitu, ‘Wani’ yang berarti ‘berani’ dan ‘tata’ yang berarti ‘teratur’. Dari gabungan dua kata kerata basa ini mengandung dua pengertian yang berbeda. Pertama, ‘Wani ditata’ yang artinya berani diatur. Makna yang kedua yaitu ‘wani nata’ yang artinya berani mengatur. Mengambil dari pengertian yang kedua tersebut mengindikasikan bahwa perempuan juga memerlukan pendidikan yang tinggi untuk bisa memainkan perannya dengan baik. Meski terkadang sebagai perempuan, segala pendapat dan cara berpikirnya tidak dimaknai dengan sangat baik oleh sebagian kalangan. Maka melalui pendidikan itulah perempuan bisa mengubah sudut pandang dengan pendekatan yang logis dan akademis. Sikap patriarki yaitu mental yang menindas perempuan, dengan menggunakan ajaran-ajaran tradisional yang ditafsirkan secara serampangan. Lebih baik diketepikan untuk mencetak peradaban bangsa yang berkemajuan. Diantara faktor yang menghalangi perempuan untuk mengenyam bangku pendidikan diantaranya ialah :

 

  1. Faktor ekonomi dan biaya sarana serta pra-sarana pendidikan yang semakin membumbung tinggi.

Pendidikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengandungi makna yaitu suatu proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Maka, pendidikan merupakan suatu elemen utama dalam membawa setiap diri anak bangsa menuju taraf kehidupan dan kepribadian yang mulia. Namun hal ini menjadi sulit sebab diakibatkan oleh tuntutan biaya yang tidak mampu dijangkau oleh sebagian masyarakat dalam suatu negara.

 

Dalam aturan pemerintahan dan kemasyarakatan di Indonesia, mengenai sektor pendidikan. Indonesia didukung oleh ‘Program Wajib Belajar 9 Tahun’ yang berkiblat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 47, Tahun 2008 tentang Wajib Belajar. Hal ini membawa seluruh anak-anak Indonesia baik lelaki maupun perempuan untuk merasakan proses belajar dan mengajar. Namun dalam tingkatan taraf pendidikan yang lebih tinggi, Bangku pendidikan lebih banyak didominasi oleh lelaki sebab biaya sarana serta pra-saranan pendidikan yang semakin tinggi. Sehingga sebagian keluarga yang pendapatan perkapitanya rendah lebih mengutamakan anak lelakinya untuk berpendidikan lebih tinggi. Atau bahkan memutuskan untuk tidak perlu berpendidikan tinggi melainkan mengambil langkah untuk bekerja dalam membantu keadaan ekonomi keluarga.

 

  1. Intervensi keluarga dan budaya dalam lingkungan sekitar.

Pengertian pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara dalam Titaley (2012) adalah daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak agar dapat memajukan kesempurnaan hidup. Yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya. Pendapat tersebut mengingatkan betapa pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan sebagai madrasah pertama dalam kehidupan berkeluarga.

 

Namun di Indonesia sendiri, kaum perempuan akan mengkalkulasikan berulang kali sebelum memutuskan untuk masuk pendidikan tinggi. Mengingat adat kebiasaan sehari-hari dalam suatu keluarga, bahwa tugas seorang perempuan adalah di rumah. Atau masyarakat Jawa sering menyebutnya ‘masak, macak, manak’ yang bermakna bahwa tugas seorang perempuan hanyalah memasak, bersolek, dan melahirkan. Faktor tingkat pendidikan seorang Ibu juga menjadi indikasi kaum perempuan memutuskan untuk tidak berpendidikan tinggi. Karena dengan apa yang telah mereka pelajari bahwa kehidupan keluarganya tetap berjalan dengan baik sekalipun Ibu mereka berpendidikan rendah. Sehingga kaum perempuan merasa bahwa berpendidikan tinggi bagi kaum wanita hanya akan menjadi sia-sia.

 

  1. Tindakan represif yang didasari oleh interpretasi agama yang cenderung dimaknai secara konservatif.

Membicarakan peran perempuan tak bisa lepas dari pembicaraan tentang hak-hak perempuan. Quraish Shihab dalam buku “Membumikan” Al-Qur’an menjelaskan, setidaknya ada tiga hak yang dimiliki oleh perempuan. Yaitu hak dalam bidang politik, hak dalam memilih pekerjaan, dan hak dalam belajar. Salah satu ayat yang seringkali dikemukakan oleh para pemikir Islam dalam kaitan hak-hak perempuan tertera dalam surah At-Taubah ayat 71, yang artinya :

 

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah awliya’ bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh untuk mengerjakan yang ma’ruf, mencegah yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

 

Dari ayat tersebut dapat diartikan bahwa di dalam Al-Qur’an telah disebutkan bahwa lelaki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama dalam hal mengerjakan segala sesuatu yang menuju pada kebaikan. Sudah bukan masanya untuk berpikiran bahwa Islam terlalu mengekang kaum perempuan sehingga hilang hak-hak perempuan termasuk kesempatannya mengenyam bangku pendidikan. Perempuan bukanlah kaum yang harus dipinggirkan, melainkan dipikirkan dan diperkirakan kehadirannya dalam suatu masyarakat.

 

Kesetaraan gender merupakan persoalan penting yang harus diperjuangkan bagi yang tidak setuju dengan penindasan atas nama agama. Sebab Islam jelas-jelas memberikan kedudukan yang sangat mulia atas perempuan. Lelaki dan perempuan hendaknya mampu bekerjasama dalam segala segi kebaikan atau perbaikan kehidupan, termasuk memberi kritik dan nasihat. Dengan demikian, setiap lelaki dan perempuan hendaknya mampu mengikuti perkembangan masyarakat agar masing-masing dari mereka mampu melihat dan memberi saran dalam berbagai bidang kehidupan.

 

Melaui beberapa faktor di atas, diharap dapat dipertimbangkan bahwa sektor pendidikan adalah perkara penting sebagai indikator kemajuan suatu bangsa. Sehingga setiap kalangan mampu untuk menjamah suasana pendidikan tinggi terutama pada kalangan perempuan. Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno pula mengatakan bahwa “Perempuan adalah tiang negeri” karena pendidikan pertama yang diberikan kepada anak ialah dari seorang Ibu. Seorang Ayah tidak akan pernah seontetik Ibu, sebab Ibu memiliki keterikatan batin yang kuat dengan anak-anaknya. Perempuan cerdas akan melahirkan anak-anak yang cerdas pula. Pendidikan mempengaruhi pola pikir dalam kehidupan berkeluarga serta cara mendidik anak dan menerapkan prinsip keadilan di keluarga. Kunci perubahan dalam peradaban suatu bangsa adalah berdasar pada perubahan dan prinsip di dalam cara perempuan memandang dunianya. Fungsi pendidikan itu sendiri bukan hanya untuk mempertajam akal saja, namun budi pekerti pun juga harus dijunjung tinggi. Karena kecerdasan yang diraih tanpa diimbangi dengan budi pekerti, tinggallah superioritas yang melampau dan rendahnya sikap kemanusiaan.

 

Mengutip sekelumit pesan dari Sri Hartini selaku Direktur Pembinaan Kepercayaan dan Tradisi Kemendikbud dalam Harian Nasional. Beliau menyampaikan bahwa, sosok perempuan bagi negara sangat besar, terutama pada saat era kemerdekaan. Berharap setiap perempuan terutama seorang Ibu dapat memahami peran tersebut dan memberikan tindak andil yang terbaik bagi anak-anak mereka sebagai generasi penerus bangsa. Perempuan harus berintelektual dan berpikiran maju serta diharap mampu beriringan dengan kaum pria. Namun kesempatan menuai pendidikan tersebut bukan digunakan sebagai alat untuk menentang kaum pria. Melainkan dapat berkembang dan maju bersama-sama. Tugas perempuan sebagai Ibu sangat berat untuk mencetak insan berkualitas di Tanah Air.