Kajian Isu Strategis Mufti Perdana Avicena - 19 Juni 2019
Perkembangan yang utuh bagi Indonesia: sebuah opini   Jika diteliti, majunya ilmu pengetahuan berdampak pada cara pandang kita melihat masa depan, semakin hari semakin jernih. Melalui matematika dan fisika, alam bukan lagi sebuah misteri. Gempa bumi dapat diketahui berjam-jam, bahkan berhari-hari lebih dulu, hasil pemilihan umum dapat ditentukan sebelum dihitung dengan diskrepansi yang hanya sepersekian persen. Manusia tak lagi tunduk pada masa depan dan sepertinya tren ini akan terus mengalami peningkatan seiring waktu. Kita terobsesi dengan masa depan yang tampak begitu jelas melalui model-model canggih matematis ilmu statistika yang dapat dikatakan sebagai jin jaman baru dan dukunnya adalah ahli statistik. Seringkali kesadaran kita dimonopoli oleh teknologi canggih sehingga kita tidak menimbang secara proporsional aspek-aspek pendukung. Tanpa memiliki pertimbangan yang utuh, perkembangan sains dan teknologi di Indonesia terancam buta arah. Teknologi berkembang karena kebut
Kajian Isu Strategis Penkastrat - 19 Juni 2019
                Demokrasi adalah sebuah kata yang sudah sangat familiar ditelinga masyarakat dunia, khususnya Indonesia. Hal ini tentu sudah jelas dikarenakan demokrasi itu sendiri telah tercantum dalam Undang-Undang kita yakni Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 yang menyatakan bahwa Indonesia adalah negara yang menganut paham demokrasi, terlebih lagi dalam pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 juga menjelaskan bahwa, “Kedaulatan ada di tangan rakyat dan dilasanakan menurut Undang-Undang Dasar”, dan selanjutnya pada pasal 33 ayat (3) yang menyatakan bahwa, “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. Pasal-pasal yang telah dirumuskan oleh Bapak-Bapak bangsa kita tersebut tidak lain dan tidak bukan merupakan hasil buah pemikiran dari esensi pengertian demokrasi tersebut. Nah, lanta
Kajian Isu Strategis Syafwendi Syafril, S.E - 22 Mei 2019
Keberadaan uang sebagai alat tukar sangat penting kita rasakan dalam rangka memenuhi kebutuhan sehari-sehari. Perannya begitu penting dalam tatanan kehidupan masyarakat. Uang bukan segala-galnya tapi segala sesuatunya membutuhkan uang ! Narasi itulah yang kemudian menjadi motivasi setiap orang baik yang tua maupun muda untuk mendapatkan “alat tukar” tersebut dengan berbagai cara seperti bekerja, berdagang, berwirausaha, berinvestasi dan lain sebagainya. Semuanya itu dilakukan dalam rangka pemenuhan kebutuhan primer, sekunder, terseier ataupun sebagai fungsi lain dalam memupuk kekayaan. Uang dan Millenials, jika kedua kata tersebut digabung dalam satu rangkaian kata maka akan muncul ke permukaan akan fakta bahwa generasi millenialspunya masalah serius dengan uang. Bagaimana tidak ! mereka mencatatkan diri sebagai generasi paling boros diantara generasi lainnya. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh GoBankingRates terhadap 1.000 orang responden menunjukkan bahwa, genera
Kajian Isu Strategis - 22 Mei 2019
Globalisasi yang ditandai dengan kemudahan akses informasi dan koneksi serta berkurangnya jarak dan waktu tempuh dalam perpindahan memberikan efek perubahan yang sangat cepat. Perubahan tersebut membawa kepada apa yang saat ini disebut Revolusi Industri 4.0 dan bahkan Society 5.0. Semua bentuk perubahan itu akan terus mengarah ke perubahan-perubahan selanjutnya. Perubahan-perubahan itu digerakkan dan dikendalikan oleh negara-negara kuat dan maju dan memaksa negara-negara lain mengikutinya. “Keterpaksaan” dalam mengikuti langkah-langkah negara maju membuat negara berkembang terus melakukan perombakkan kebijakan yang sesuai dan, kadang, diinginkan negara maju. Perombakkan terjadi hampir di seluruh aspek dan mempengaruhi perubahan sosial yang signifikan. Dalam bidang pendidikan, misalnya, tujuan dan kurikulum pendidikan diarahkan untuk merespon perubahan saat ini. Tujuan dan kurikulum dirancang untuk menghasilkan teknologi dan keterampilan kerja sebagaimana perubahan dunia
Kajian Isu Strategis Muhammad Fuad Hadziq - 01 Mei 2019
Indonesia, bangsa yang besar                Musim telah memasuki musim penghujan, tetapi serasa musim panas bulan-bulan belakangan ini. Bangsa Indonesia terasa panas; baik itu darat dan udara. Kampanye yang begitu lama, hampir 6 bulan menyebabkan konflik di masyarakat masih begitu mengendap kuat.  Pemilu kali ini terasa sangat berbeda dari pemilu sebelumnya, menguras waktu dan biaya yang teramat besar. Ditambah pertengkaran di media sosial yang tanpa filter, semakin menghilangkan sekat budaya lokal asli nusantara bangsa Indonesia. Kemudian menjamurnya hoax yang masif, tak dapat dibendung dengan logika dan hati nurani. Belum lagi, ujaran kebencian bagaikan hal lumrah ditemukan dalam sosialisasi di dunia maya. Sungguh, bangsa Indonesia sedang diuji. Pada 17 April 2019 lalu, Bangsa Indonesia patut bangga bahwa Pemilu telah sukses berjalan lancar dan tertib. Apakah setelah itu selesai? Ternyata tidak. Beredar di
Kajian Isu Strategis Indiena Saraswati - 29 April 2019
Jika kamu berada di rentang usia pertengahan 20-30 tahun, mungkin lingkaran teman-temanmu sedang ramai menggaungkan istilah quarter-life crisis. Seandainya kamu bosan mendengarnya, ada baiknya dirasakan dan pikirkan ulang, Gue merasakan ini juga ngga sih? Nyatanya, krisis seperempat abad ini memang tidak jarang dialami. Pertengahan dua puluh adalah masa yang tanggung. Kita sudah tidak muda lagi, tetapi kita juga belum tua, kok. Masih ada jejak kehidupan bebas dan seru yang tersisa, tetapi di saat yang sama kita sudah mulai berpikir untuk menjadi lebih terarah, bertanggung jawab, dan memikirkan ulang, Gue tuh hidup buat apa, sih? Nah, pertanyaan inilah sumber krisis seperempat abad tersebut. Sebagai manusia yang berpikir, adalah hal alamiah jika kita mempertanyakan mengapa kita diturunkan ke bumi. Kita mempertanyakan siapa kita dan apa tujuan kita di dalam hidup ini, terutama karena kita dikejar waktu dan kematian. Intinya, kita tidak ingin menyesal di akhir haya
Kajian Isu Strategis Muhammad Haykal Wiradi - 29 April 2019
Saat ini kita telah memasuki era Industrial Revolution (IR) 4.0 dimana istilah ini sering digunakan untuk merujuk pada proses perkembangan dalam manajemen produksi. Apa arti dari nama IR 4.0? Artinya pada era IR 4.0 sekarang ini teknologi semakin berkembang dari sebelumnya  produksi otomatis menggunakan elektronik dan IT kini telah berkembang menjadi “Cyber Physical Systems” dan juga intelligent production dengan Internet of Things (IoT), cloud technology dan big data. Kecepatan terobosan saat ini tidak memiliki preseden historis. Jika dibandingkan dengan revolusi industri sebelumnya, Industri 4.0 berkembang pada kecepatan yang eksponensial daripada linear. Terlebih lagi, hal itu mengganggu hampir setiap industri di setiap negara. Dan luas serta dalamnya perubahan ini menandai transformasi seluruh sistem produksi, manajemen, dan tata kelola. Bahkan saat ini teknologi IR 4.0 sudah banyak dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan yang ada diseluruh dunia. Jadi penjelasa
Kajian Isu Strategis Hidayat - 08 April 2019
Teknologi menjadi bahan yang penting dan selalu ada dalam formula kehidupan modern, sehingga menimbulkan pertanyaan: Apa artinya teknologi bagi kita sebagai manusia? Haruskah kita merasa terancam oleh masa depan. Masa depan di mana kemajuan teknologi berarti pekerjaan tertentu akan hilang dan konsep “realitas” kita menjadi miring saat kita secara bertahap lebih bergantung pada sistem cerdas dan menguntungkan bagi dunia virtual? Atau, Haruskah kita bersyukur bisa hidup di dunia di mana perjalanan, komunikasi, perbankan, dan kesehatan, dll. yang semuanya telah ditingkatkan berkat teknologi? Jawabannya: mungkin sedikit dari keduanya.   Teknologi meningkatkan pengalaman manusia dan dunia yang ideal, tidak membuat kita takut akan masa depan. Ini seharusnya membuat kehidupan pada dasarnya “lebih mudah”, tetapi tentu saja konsep semacam itu sangat subyektif. Terlebih lagi, teknologi dapat digunakan untuk “baik” atau “buruk”, apakah it

Terhangat