Kajian Isu Strategis Weri Novita - 17 Maret 2019 86

 

Salah satu pengalaman paling tidak menyenagkan sebagai founder startup adalah kurangnyakemampuanmengatur karyawan yang melakukantindakandisorganisasi.

Eits, ngomong-ngomongapa sih disorganisasi itu?

Jadi, disorganisasi adalah semacam adanya “perubahan” yang terjadi di perusahaan, sehingga membuat karyawan yang berada di lingkungan tersebutmenjadi frustasi dan kesal. Sebagai contoh, apakah kalian pernah mengalami kondisi ketika ingin pulang kerumah, lalu terdapat meeting penting di luar jam kerja yang tidak bisa dihindari? Sehingga tidakadapilihan lain, mau tidak mau kamu harus mengikuti meeting dan tidak bisa balik ke rumah sesuai yang diinginkan.

Mungkin sulit untuk kita bisa mengerti bahwa setiap orang itu berbeda. Kita tidak bisa menuntut hal yang sama sesuai dengan apa yang kita mau, kalau dari awal kita tidak mengambil bagian guna mengatasi perbedaan itu. Ketahuilah bahwa mengatasi masalah adalah tantangan yang sering kali perlu kita lakukan untuk mengingatkan karyawan kita atas dampak yang terjadi jika mengalami disorganisasi. Berikut beberapa faktor yang bisa membantu karyawanmu yang melakukantindakandisorganisasi agar menjadi lebih cekatan untuk membantu tujuan bisnismu:

Renungkan ukuran masalah

Pertama adalah coba renungkan tentang apa sebab – akibat dari disorganisasi yang dialami karyawanmu, dimulai dari apaalasanmerekamelakukan tindakan disorganisasi. Contohnya, apakah jika pekerjaan yang belum selesai dan sudah melewatideadlineakandapat mengganggu kinerja tim? Atau, apakah karena mereka selalu datang terlambat saat rapat penting akandapatmenyebabkanstandar profesional tim menurun?

Lalu, coba renungkan kembali apakah hal-hal dari disorganisasi itu dapat diselesaikan? Dari sini kamu bisa mencari tahu masalah apa yang dapat dinegosiasi dan yang tidak bisa.

Bersikaplah empatik

Selanjutnya, cari tau apa penyebab utama yang mendorong karyawanmu melakukan tindakan disorganisasi. Tunjukkan rasa empatimu dan cobalah untuk memberikan pengertian karena setiap orang pasti berusaha untuk menjadi produktif dan hal itu perlu dibiasakan. Rasa empati dapat membantumu lebih dekat dengan karyawan, di samping menilai atau mengritik mereka. Ingatlah bahwa semua membutuhkansuatu proses dan kemungkinan hal itu sangat sulit bagi sebagian orang, jadi tetap asah rasa empatimu.

 

Bicaralah dengan karyawanmu

Jikatindakan disorganisasi yang dilakukan karyawanmu telah merusak produktivitas tim, cobalah ajak mereka untuk duduk bersama dan diskusikan apa yang membuat mereka menjadi disorganisasi. Setelah mendengarkan dan mengetahui semua jawaban, bantulah karyawanmu untuk memahami apa dampak dan konsekuensi dari disorganisasi yang merekalakukan dan yang terpentingcobalah untuk memberikan saran kepada mereka agar dapatmelaluisituasi yang tengahdialami. Semua berawal dari komunikasi dan dari komunikasi diharapkan semua dapat tersampaikan dengan baik.

Berikan pelatihan yang terbaik

Untuk membantu mencapai tujuan bisnis, kita mungkin dapat menjelaskan kepada karyawan tentang apa saja yang biasa kita lakukan, seperti membuat daftar proses proyek yang sedang dikerjakan menggunakan sistem arsip dokumen, membuat ulasan, dan lain-lain. Mungkin kita berpikir hal-hal sederhana yang kita lakukan bahkan tidak terpikirkan oleh orang lain. Tetapi satu hal yang perlu diingat bahwa ada orang-orang yang lebih “visual” akan cenderung melakukan sesuatu lebih baik dengan menggunakan kertas atau papan tulis sekalipun. Metode ini bisa kamu bagikan sebagai upaya peningkatan produktivitas tim, tetapi itu tidak harus menjadi arahan utama. Orang-orang mungkin bisa terhubung secara berbeda, tetapi diperlukan juga ruang untuk fleksibilitas.

Rekomendasikan saran terhadap karir mereka

Hindari menegur karyawanmu yang disorganisasi tanpa mencoba memberikan mereka solusi, karena hanya akan membuat mereka menjadi tidak produktif di lingkungan kerja, terlebih dalam tim. Daripada menegur, kamu dapatmencoba untuk merekomendasikan beberapa hal terkait kepentingan pribadi karyawanmu yang disorganisasi. Contohnya, seperti membantu memberikan pemahaman terkait bagaimana peningkatan kinerja mereka dalam bidang yang dikerjakan agar mereka cenderung ingin melakukan perubahan.

Sumber : Ziliun

Referensi : Harvard Business Review