Berita Axel Rizkiya Iskandar - 24 Januari 2019 231


Bencana alam merupakan fenomena yang kita tidak bisa memprediksi kemunculannya dan setiap manusia harus siap dengan apa yang akan terjadi di masa kini dan masa mendatang.

Diakhir bulan Januari ini, tepatnya pada tanggal 22 Januari, banjir melanda daerah Sulawesi Selatan, khususnya kota Makassar dan 6 kabupaten lainnya.

Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, mereka memprediksi bahwa hujan lebat akan mengguyur sejumlah wilayah di Indonesia pada akhir Januari 2019.
Dan prediksi ini pun benar terjadi, ketika hujan lebat serta angin kencang menerjang wilayah Sulawesi Selatan.

Sebelumnya Deputi Bidang Meteorologi BMKG Mulyono Prawbowo, sudah menghimbau warga agar berwasapada terhadap dampak curah hujan yang tinggi seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang dan jalan licin.


Salah satu dampak dari intensitas curah hujan yang tinggi ini menerjang Ibu Kota Sulawesi Selatan yaitu Makassar.

Sebagian Wilayah di kota Makassar terendam banjir akibat curah hujan yang tinggi. Ratusan rumah warga di kawasan Makassar terendam air, bahkan penduduk setempat yang rumahnya direndam oleh banjir harus mengungsi ke rumah kerabat dan saudara mereka yang tidak terendam banjir. Banjir terparah di Kota Makassar berada di Kelurahan Paccerkkang dengan elevasi ketinggian air campir mencapai 2 meter atau setinggi dada orang dewsasa.

Banjir yang melanda kota Makassar dan enam kabupaten di Sulawesi Selatan, sejauh ini telah menewaskan 30 orang dan 25 orang lainnya dinyatakan hilang seperti yang dilaporkan oleh Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB via akun resmi Instagram, Kamis 24 Januari 2019.

Menurut warga Makassar, banjir tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya, dikarenakan banjir kali ini datangnya tiba tiba dengan kondisi air yang sudah tinggi, sehingga penduduk setempat pun belum sempat menyelamatkan barang barang berharga di rumah mereka. Selain itu faktor utama yang menyebabkan kondisi elevasi air banjir tinggi yaitu dibukanya bendungan bili-bili yang sudah tidak bisa menampung volume air dikarenakan hujan deras beruturut turut.

Gubernur Sulawesi Selatan Nordin Abdullah mengungkapkan penyebab terjadinya banjir bandang yang melanda enam wilayah yakni Kabupaten Gowa, Kota Makassar, Kabupaten Maros, Kabupaten Pangkep, Kabupaten Barru dan Kabupaten Soppeng adalah pendangkalan sungai dan perusakan hutan serta diperparah dengan terjadinya eksploitasi sumberdaya hutan di daerah hulu.

Untuk mengantisipasi banjir ini Badan National Penanggulangan Bencana (BNPB), Kanmis (24/1) pagi, mengirimkan Tim ke daerah terdampak banjir di Sulawesi Selatan. Hingga kini, akses jalan utama yaitu jalan Trans Sulsel menjadi lumpuh akibat ketinggian air mencapai 1,5 meter. Sedangkan, di sejumlah pemukiman, banjir mencapai 2 meter.

Terhangat