Kajian Isu Strategis Reza Ahmad Nugroho - 08 Maret 2019 233

Indonesia akan segera melaksanakan hajatan besarnya pada tahun 2019 ini. Pemilu akan dilaksanakan pada bulan April 2019. Berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya, pemilu tahun ini adalah pemilu serentak pertama dimana pemilu tidak hanya memilih presiden juga memilih anggota legislatif. Agenda se-Akbar ini akan berpotensi menghadapi banyak sekali tantangan. Salah satu tantangan yang mungkin akan berdampak besar adalah serangan siber. Serangan siber atau serangan hacker dapat berpotensi menghambat, mempengaruhi atau bahkan mengacaukan pemilu 2019. Serangan siber atau Cyberattack merupakan istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan upaya-upaya merusak, merubah, atau mencuri sebuah data didalam sistem atau komputer. Seiring perkembangan teknologi diversitas serangan siber juga berkembang menjadi beragam dan lebih merugikan. Serangan-serangan yang sedang marak sekarang merupakan serangan-serangan yang menggunakan konsep social-engineer dimana serangan tersebut memanfaatkan kelengahan manusia dan mengambil keuntungan darinya.

Phising adalah salah satu contoh serangan yang berbasis social-engineer. Peretas atau hacker akan menjebak pengguna dengan pesan atau tautan yang meyakinkan sehingga pengguna tanpa ada rasa terpaksa akan memberikan data pribadi mereka yang berupa username dan password atau data lain yang membantu peretas mendapatkan akses ke akun pengguna. Selain itu, serangan yang sering diluncurkan para peretas adalah Denial-of-Service atau DoS. Serangan ini bertujuan untuk membuat server atau data tertentu tidak bisa diakses dengan memenuhi aliran jaringan sehingga sever tidak sanggup memenuhi permintaan pengguna. Serangan ini bisa diperkuat dengan menambah jumlah penyerang yang kemudian disebut Distributed- Denial-of-Service atau DDoS.


Malware dan Virus juga sering menjadi senjata andalan para hacker. Virus bisa didistribusikan dengan mudah melalui tautan yang disebar lewat surel. Para pengguna yang kurang waspada akan sangat mudah tertipu dengan penampilan meyakinkan dari surel dan mendownload virus atau malware yang ditanam hacker.
Serangan Siber dan Pemilu Serentak 2019 Indonesia berada di posisi ke-27 dalam daftar negara paling banyak mendapat serangan online alias serangan siber di kuartal kedua 2018 berdasarkan data dari Kapersky Lab. Menurut Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Djoko Setiadi, pada 10 bulan pertama di tahun 2018 terdeteksi lebih dari 200 juta serangan siber ke Indonesia. Melihat data-data diatas bisa kita simpulkan bahwa Indonesia adalah salah satu target potensial serangan-serangan siber.


Dengan adanya pemilu serentak 2019 ini, serangan siber diprediksi akan meningkat pesat. Wujud serangan siber yang perlu diwaspadai menjelang pemilu serentak 2019 ini adalah peretasan terhadap infrastruktur penghitungan suara, terutama milik KPU dan juga Bawaslu. Peretasan ini bisa berupa DDoS Attack yang membuat server tidak dapat diakses dan juga sangat mungkin berupa manipulasi data. Selain itu, peretas juga bisa mencuri data dari elemen-elemen Pemilu. Menurut menurut Direktur Deteksi BSSN, Sulistyo, pada pilkada 2018 yang lalu banyak akun pribadi dari penyelenggara Pemilu yang berusaha diambil alih dengan tujuan para peretas bisa mengambil data pribadi yang sensitif kemudian disebarluaskan kepada masyarakat.


Berkacapada Presidential Election AS 2016 Amerika Serikat, sebuah negara yang maju dan menjadi role model demokrasi bagi beberapa negara, mengalami intervensi pada pesta demokrasinya yakni Presidential Election pada tahun 2016. Rusia kala itu mencoba mengintervensi dengan berbagai cara, salah satunya melalui serangan siber yang dilakukan oleh intelijen mereka. Objektif Rusia adalah menjatuhkan kampanye Calon Presiden Hillary Clinton, mendorong elektabilitas Calon Presiden Trump dan meningkatkan perselisihan politik di Amerika Serikat. Para hacker yang berafiliasi dengan Russian Military Intelligence Service (GRU) menyebarkan email yang diperuntukkan untuk melakukan serangan spearphising kepada lebih dari 300 orang yang punya hubungan dengan Partai Demokrat (DNC) yang merupakan partai pengusung Hillary Clinton. Melalui aktivitas hacking tersebut Intelijen Rusia berhasil mendapat akses ke lebih dari 10.000 email dan mempublikasikannya ke publik selama masa kampanye.


Tidak berhenti sampai disitu, para hacker mengirim email phising kepada juru kampanye Hillary Clinton, John Podesta dan berhasil mendapatkan akses ke 60.000 email pribadi Podesta dan sekali lagi dipublikasikan ke masyarakat AS. Puncak dari serangan ini adalah berhasilnya para hacker menembus database pemilih di 39 negara bagian berbeda. Pada awalnya pihak AS mengira para hacker bertujuan mengganti atau menghapus data dari database itu tetapi, setelah diteliti lebih lanjut, para hacker ternyata mengincar informasi kampanye dan menghubungkan koneksi finasial antara beberapa pemilih dengan kandidat calon presiden.


Kesiapan Indonesia Menangani Serangan Siber 2 tahun lalu, tepatnya 19 Mei 2017.  Peraturan Presiden Nomor 53 tahun 2017 melahirkan satu badan baru yang bertugas melaksanakan protokol keamanan siber yaitu Badan Siber dan Sandi Nasional (BSSN). Badan ini punya peran penting sebagai pusat sentral Cyber Defense di Indonesia. Dengan adanya badan ini diharapkan bisa mengurangi response time ketika terjadi serangan-serangan siber pada Pemilu 2019. BSSN bahkan juga melakukan koordinasi dengan sejumlah kementerian, lembaga, provider komunikasi, hingga media sosial untuk mengenali dan mencegah potensi serangan-serangan siber. Pihak KPU juga sudah berkoordinasi dengan BSSN dalam pemasangan server pada infrastruktur IT. Selain itu dilakukan juga monitoring situs KPU dan Bawaslu. Tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa yang harus bersiap menghadapi serangan-serangan siber ini bukan hanya lembaga negara saja. Masyarakat juga perlu memahami adanya ancaman-ancaman siber yang mungkin menghantui mereka.

Melihat statistik angka serangan siber di Indonesia yang meningkat setiap tahunnya, maka bisa kita simpulkan bahwa banyak masyarakat yang belum sadar akan ancaman serangan siber. Harapan Untuk Indonesia dan Pemilu Serentak 2019. Sebuah PR bagi Indonesia untuk meningkatkan kesadaran mengenai serangan-serangan siber. Dengan meningkatnya pengguna internet di seluruh Indonesia berarti target kejahatan dan serangan siber juga meningkat. Harus disadari juga bahwa serangan siber akan terus berkembang seiring waktu, hal ini mendorong kita untuk terus mencetak sumber daya manusia yang memiliki kapabilitas merespons dan menanggulangi serangan-serangan siber. Di tahun politik ini kita pahami bahwa Indonesia akan sangat berpotensi menjadi sasaran serangan-serangan siber baik dari luar maupun dalam negeri. Untuk itu, penulis berharap, seluruh elemen yang berhubungan secara langsung dengan pemilu bisa lebih memahami resiko-resiko dari serangan siber serta upaya-upaya preventifnya.

 

Terhangat