Kajian Isu Strategis Muhammad Fuad Hadziq - 01 Mei 2019 440

Indonesia, bangsa yang besar

               Musim telah memasuki musim penghujan, tetapi serasa musim panas bulan-bulan belakangan ini. Bangsa Indonesia terasa panas; baik itu darat dan udara. Kampanye yang begitu lama, hampir 6 bulan menyebabkan konflik di masyarakat masih begitu mengendap kuat.  Pemilu kali ini terasa sangat berbeda dari pemilu sebelumnya, menguras waktu dan biaya yang teramat besar. Ditambah pertengkaran di media sosial yang tanpa filter, semakin menghilangkan sekat budaya lokal asli nusantara bangsa Indonesia. Kemudian menjamurnya hoax yang masif, tak dapat dibendung dengan logika dan hati nurani. Belum lagi, ujaran kebencian bagaikan hal lumrah ditemukan dalam sosialisasi di dunia maya. Sungguh, bangsa Indonesia sedang diuji.

Pada 17 April 2019 lalu, Bangsa Indonesia patut bangga bahwa Pemilu telah sukses berjalan lancar dan tertib. Apakah setelah itu selesai? Ternyata tidak. Beredar di media massa, kecurangan yang terjadi di semua tingkatan, baik di pilihan presiden dan pilihan legislatif yang dilakukan kedua kubu. Hal-hal ganjil dengan mudah kita temukan, baik itu berkaitan dengan formulir C1, data yang salah input, maupun kerusakan kotak suara. Perang media sosial bukannya berhenti malah makin tidak terkendali, terbukti dengan tagar twitter yang saling beradu kuat. Keadaan akar rumput sudah mulai mendingin, tetapi elit politik masih gaduh dalam kepentingan mereka. Delegitimasi hasil Pemilu merembet ke KPU (Komisi Pemilihan Umum) sebagai lembaga negara resmi yang dijamin oleh konstitusi. Terakhir yang tiada bisa dinilai dengan apapun, sampai artikel ini dipublikasikan tercatat 296 petugas KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara) wafat dan 2151 orang sakit.

Sampai kapan keadaan seperti ini?

Pertanyaan besar yang bergelayut di hati bangsa Indonesia. Sampai kapan kejadian ini akan berlangsung? Sampai kapan ujung dari Pemilu ini? Bagaimana nasib besar bangsa Indonesia? Jawabannya, kedewasaan demokrasi bangsa Indonesia sedang dipertaruhkan.

Indonesia adalah negara besar yang diuji kedewasaan berdemokrasinya. Siap menang siap kalah adalah konsekuensi dari harga sebuah demokrasi. Elit politik harus menunjukkan sikap ke-negarawanan-nya serta menjadi tuntunan bukan tontonan. Jika kondisi ini terus berlarut-larut akan membuat keadaan yang serba tidak stabil dan semakin membahayakan. Disintegrasi bangsa menjadi ketakutan yang sewaktu-waktu muncul. Lambat laut kultur budaya Indonesia perlahan akan punah diganti dengan budaya saling mencurigai antar bangsa Indonesia sendiri. Akhirnya, rakyat sendiri yang akan menanggung risiko terbesarnya yaitu hilangnya kesejahteraan masyarakat Indonesia.

 

 

Pentingnya rekonsiliasi

Situasi seperti ini, sangat membahayakan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. Jika dibiarkan, polarisasi antar elemen bangsa akan semakin menganga dan lambat laun menuju disintegrasi bangsa. Oleh karenanya secepatnya diperlukan sebuah rekonsiliasi; mencoba untuk bersatu kembali membangun ruang tengah bersama. Dari situ, alangkah elegannya seluruh elemen bangsa terutama elit politik untuk tidak semakin larut dalam hingar-bingar menang atau kalah. Bangsa Indonesia harus siap semua konsekuensi berdemokrasi.

 Menguatnya politik identitas belakangan ini yang membuat sekat keberagaman mulai pudar. Harus ada upaya saling mengalah mengakui kekalahan dan tidak sesumbar dengan kemenangan. Rekonsiliasi berupaya menghilangkan luka lama untuk membuat imunitas baru. Akankah luka itu terus sakit, tentu harus ada obatnya. Tulisan bukan upaya untuk memenangkan salah satu pihak, tetapi lebih ke arah maslahah/tujuan kebaikan yang lebih besar. Persatuan kembali Indonesia demi kemaslahatan rakyat yang lebih utama.

 

Muhammad Fuad Hadziq

PhD Candidate in Islamic Economics University of Malaya

Dvisi Keintelektualan dan Pendidikan