Berita Acara - 04 Oktober 2017 175

Forum diskusi antar masyarakat Malaysia dan Indonesia khsususnya para pelajar, pemuda, dan alumni telah berhasil dilaksanakan pada beberapa waktu lalu, tepatnya hari Minggu, 24 September 2017. Bertempat di kedutaan Besar Malaysia di Jakarta, kegiatan ini langsung dibuka oleh wakil duta besar Malaysia untuk Indonesia, Bapak Zamshari Shaharan beserta para jajarannya seperti Atase Pendidikan, serta sekretaris utama. Kegiatan ini merupakan inisiatif dan program dari Persatuan Kebangsaan Pelajar Malaysia di Indonesia (PKPMI) yang diketuai oleh saudara Azlan Zakaria.

Mengambil tajuk “Negaraku, Nusantara Kita”. Forum diisi oleh 4 orang pembicara, masing-masing 2 dari Malaysia dan 2 dari Indonesia. Dari Malaysia ada Bapak Mohd. Izzat Afifi bin Abdul Hamid (Exco Majlis Belia Malaysia) dan Bapak Lukman Ismail (President PAPTI). Sedangkan dari Indonesia ada Ibu Aliyah Alimun (Pengurus KPPI) dan Bapak Zulfadli (Ketua umum PPI Malaysia). Diskusi dipandu secara interaktif dan menarik oleh saudara Azlan Zakaria selaku moderator.

Selama kegiatan, diskusi mengalir dengan suasana kekeluargaan, seolah-olah menguatkan slogan yang selama ini banyak disebut bahwa Malaysia-Indonesia tidak hanya bertetangga, tetapi juga bersaudara. Forum diskusi banyak mengulas soal bagaimana peran generasi muda hari ini dalam memahami semangat keserumpunan antar kedua negara guna lebih memahami jati diri sebagai modal untuk menghadapi tantangan zaman hari ini dan kedepan.

Bila bicara soal hubungan Indonesia dan Malaysia sebagai negara yang serumpun dan bertetangga, sebetulnya kita sedang berbicara soal hubungan yang cukup unik, diberkahi banyak persamaan namun kemudian justru kerap kali menjadi pemicu ketegangan. Maka untuk itu, hubungan kedua negara dirasa perlu dilandasi sikap kedewasaan, saling terbuka, dan pengertian yang tinggi diantara kedua bangsa. Hal ini senada dengan apa yang disampaikan oleh ketua umum PPI Malaysia dalam paparannya bahwa setidaknya ada tiga persamaan yang dimiliki oleh Indonesia dan Malaysia yakni Bahasa, budaya, dan agama. Beliau melanjutkan bahwa kedua pihak perlu melihat hubungan ini dalam frame kemaslahatan yang lebih besar dengan memperbanyak persamaan dan memperkecil perbedaan yang tidak produktif, semua harus dilandasi oleh keinginan untuk hidup damai sebagai masyarakat serumpun. Berfikiran terbuka dan saling pengertian satu dengan yang lainnya dengan mengetepikan sikap merasa benar sendiri. Untuk itu, diskusi serta komunikasi yang baik adalah kunci.

Kegiatan diskusi bersama seperti ini dinilai sebagai kegiatan yang cukup penting dan perlu dipertahankan bahkan lebih sering dilakukan untuk menghindari terjadinya salah persepsi, komunikasi yang baik tentunya juga akan melahirkan pemahaman yang baik pula, bukan? (Zulfadli)

Recent News

Terhangat

Merchandise

Media Social

Facebook




Twitter

Instagram