Sumbangan Tulisan Taufik Surrahman - 28 Agustus 2019 45

 

Menurut Andi Nurbaethy, teori cinta dalam pemikiran Islam menempati posisi penting sebagai salah satu elemen utama dalam perbincangan tentang relasi manusia baik dengan Sang Pencipta maupun dengan alam atau sesama mahluk lainnya. Seiring dengan perjalanan zaman, ajaran cinta, dengan karakter universalitas natural serta keintiman personal yang dimilikinya, semakin mendapatkan tempat dalam skala global dalam kaitannya dengan pemikiran tentang hakikat kemanusiaan.

Salah seorang pemikir Islam yang menawarkan konsep cinta dalam kaitannya dengan hakikat kemanusiaan adalah Sir Muhammad Iqbal, yang sangat terpengaruh oleh Jalalluddin Rumi, “The Prophet of Love.” Iqbal mengurai konsep cintanya dalam skema penyempurnaan diri menuju penyatuan abadi dengan Sang Khalik. Pembahasan tentang cinta sudah mewarnai diskusi-diskusi penting sepanjang sejarah pemikiran Islam. Konsep cinta yang secara filosofis pada dasarnya mengisyaratkan hasrat pihak yang tidak sempurna menuju kesempurnaan, pada tahap perkembangan pemikiran Neoplatonisme dan teologi mistik dimaknai sebagai tendensi gerakan dua arah; yaitu emanasi cinta menuju alam semesta dan hasrat makhluk (ciptaan) untuk kembali dan menyatu dengan penciptanya. Perspektif ini sangat menarik dan pada kenyataannya telah memberi pengaruh yang cukup kuat pada corak pemikiran Islam. Rumi dalam syairnya mengatakan bahwa cinta adalah penyembuhan bagi kebanggaan, kesombongan, dan pengobatan bagi seluruh kekurangan diri. Kemudian, hanya mereka yang berjubah cinta sajalah yang sepenuhnya tidak mementingkan diri (Reynold A. Nicholson, Aspek Rokhaniah Peribadatan Islam di dalam Mencari Keridhaan Allah)

Seorang psikiater sekaligus tokoh psikologi Humanistik bernama Erick Fromm mengatakan bahwa cinta merupakan seni, untuk dapat mencintai seseorang perlu belajar tidak hanya teori akan tetapi juga dalam praktik. Seseorang perlu belajar keduanya hingga keduanya (teori dan praktik) menjadi terpadu sebagai intuisi. Kemudian Erick Fromm juga mengatakan bahwa cinta Tuhan adalah karunia. Artinya, ketika kita percaya bahwa apa yang kita lakukan adalah karena Tuhan dan apa yang kita dapatkan adalah karena Tuhan, maka hal tersebut merupakan cinta Tuhan.  Dalam dunia sufistik cinta juga menjadi tema yang penting. Ada banyak ungkapan sufistik tentang cinta dan ada banyak sufi yang membahas tema cinta. Di antara salah satu ungkapan tentang cinta adalah mahabbah, dan salah satu sufi yang membahas tema cinta adalah Rabiah Adawiyah, atau seringkali disebut dengan mahabbah.

Hub yang sering dimakanai dengan kata cinta dalam terminologi bahasa Arab merupakan bentuk mashdar dari kata habba, yang artinya condong terhadap sesuatu. Menurut Imam Ibnu Faris hub adalah keadaan yang luzuum atau terus menerus serta lazim dan tsabat tetap[1]. Adapun menurut Imam Arraghib Ashfahaniy mahabbah atau kecintaan itu adalah: keinginan yang terlihat atau disangkakan baik. Keinginan yang terlihat dan disangkakan baik ini dibagi tiga:

  1. Mahabbah ladzah yaitu kecintaan yang mengandung rasa kenikmatan, seperti cinta seorang laki-laki dengan perempuan.
  2. Mahabbah linaf’i yaitu kecintaan yang disebabkan karena ada unsur manfa’at, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surat As Shaff ayat 13: “Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.”
  3. Mahabbah li fadhli, yaitu kecintaan karena memiliki keutamaan atau kelebihan.

Selanjutnya cinta menurut istilah, terdapat banyak sekali definisi yang dipaparkan oleh ulama, namun setidaknya dalam kesempatan ini akan disampaikan tiga definisi. Menurut Imam Ar-Razzi, cinta itu adalah satu dari berbagai jenis keinginan. Imam Ibnu Asyuraa mendefinisikan cinta sebagai sebuah kecondongan jiwa kepada kebaikan yang ada pada yang dicintai baik cinta dalam arti makna atau naluri, cinta karena mendengar kebaikan yang dicintai, adanya manfaat yang nyata ataupun tidak adanya inhishor kecintaan pada kecondongan jiwa terhadap apa yang dilihat. Aiman Awwad Asyarafi mendefiniskan: Keinginan jiwa yang disertai dengan kecondongan terhadap apa yang terlihat dan  disangkakan baik atau apa yang dirasakan nikamat dengan adanya kesesuain hati, sehingga terlihat baik.

Pola Penuturan Cinta Dalam Al-Qur’an

Kata al hub dan kata serupa dengannya yang bermakna cinta disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak 83 kali dengan jumlah ayat 74 ayat. 22 ayat diturunkan di Makkah dan 52 ayat diturunkan di Madinah.  Pola-pola kata yang digunakan membahasa cinta dalam ayat-ayat yang diturunkan di Makkah antara lain pola fi’il madhi atau kata kerja lampau yang membawa implikasi makna ta’kidul hudust. Ta’kidul hudust yaitu bentuk penegasan akan kebenaran atas telah terjadinya cinta terhadap sesuatu. Pola selanjutnya adalah fi’il mudhari atau kata kerja yang berarti sedang atau akan datang mambawa implikasi makna tajaddud wal istimraar. Tajaddud wal istimrar adalah kejadian atau keadaan yang terus menerus dalam mencintai . Ketiga adalah pola maf’ul atau objek, mashdar atau bentuk ketiga dari kata dalam bahasa Arab dan bentuk af’al tafdhil atau kata yang digunakan untuk menunjukkan lebih membawa implikasi makna kamal wa itmam. Kamal wa itmam adalah kelengkapan dan kesempurnaan cinta

Jikalau diperhatikan dengan seksama ayat-ayat cinta yang di turunkan di Makkah akan didapatkan bahwa cinta berisikan tentang kisah-kisah masa lalu seperti Nabi Ibrahim, kemudian pembicaraan ayatnya selalu fokus pada dakwah untuk mengesakan Allah, meyakini kenabian dan kerasulan, kemudian membahas akhlaq dan asas-asas syari’at, selanjutnya membahas tentang orang-orang musyrik yang sombong, suka membazirkan, gemar membuat kerusakan dan angkuh yang mana semua itu adalah perkara-perkara yang tidak dicintai Allah Ta’ala.

Apabila dikaitkan dengan sejarah dakwah Rasulullah, ayat-ayat tentang cinta ini sangat berkaitan dengan proses dakwah Rasulullah. Secara umum dakwah Rasulullah dibagi dalam dua bagian, yaitu periode Makkah dan periode Madinah. Periode Makkah dimulai sejak Rasulullah diangkat menjadi nabi dan rasul, pada periode ini fokus dakwah Rasulullah pada iman, akhlak dan berbuat baik, serta membahas apa saja yang dicintai oleh Allah dan apa yang tidak disukai Allah sebagaimana tertera dalam ayat-ayat di atas. Sedangkan periode Madinah dimulai sejak hijrahnya Rasulullah bersama para sahabat, pada periode inilah ajaran Islam semakin meluas.

 

Master of Political Science International Affairs School of International Studies

Ghazali Shafie Graduate School of Government

Universiti Utara Malaysia