Berita Acara Axel Rizkiya Iskandar - 17 Agustus 2019 105

Jakarta (10/08) – Dua tahun lampau, Indonesia dihebohkan dengan kehadiran mantan presiden Amerika Serikat yaitu Barack Obama dalam Kongres Diaspora Indonesia yang ke-4 tanggal 1 Juli 2017 silam di Jakarta. Kongres yang dihadiri oleh kurang lebih 9.000 peserta pada tahun 2017, merupakan perhelatan terbesar dalam sejarah gerakan diaspora Indonesia yang dimulai di Los Angeles tahun 2012.

 

Tahun ini, digelar di The Kasablanka Hall, Kota Kasablanka Mall di daerah Tebet, Jakarta Selatan, sekitar 5.000 peserta terlihat antusias mengikuti kongres ke-5 yang bertajuk “Empowering Indoesian’s Human Capital”. Keberadaan diaspora untuk pembangunan di Indonesia memang sangat penting, apalagi untuk menghadapi era revolusi industry 4.0.

 

Dalam kongres yang berlangsung 7 hari sebelum hari kemerdekaan Indonesia, meneteri luar negeri Indonesia Retno Marsudi menegaskan visi Indonesia selama 5 tahun kedepan yaitu memfokuskan dalam bidang infrastruktur, sumberdaya manusia, investasi, dan reformasi birokrasi.  “Ada kata menarik yang dikatakan khusus  oleh presiden Indonesia Joko Widodo yaitu diaspora. Saya yakin saat presiden menyebut diaspora itu merupakan pengakuan, penghargaan, pengharapan terhadap diaspora Indonesia” tutur Retno Marsudi dilansir dari news.detik. Retno juga menambahkan bahwa Diaspora itu sebagai agen pembangunan SDM yang nantinya akan menjadikan DNA baru untuk Indonesia dan penyempurnaan data diaspora adalah kunci untuk memetakan talenta. Akhir kata, Retno Marsudi menyebutkan bahwa Indonesia sebagai agen penyebaran identitas bangsa, Indonesia sebagai negara majemuk bangsa yang toleran, dan bangsa yang damai. Tidak ada lagi orang Indonesia yang tidak ber-bhineka tunggal ika, dan tidak ada lagi yang tidak menghargai suku ras lain.

 

Selain itu, hadir juga Dino Pati Djalal selaku ketua dewan pengawas Indonesia diaspora network global. Beliau menyarankan penggagasan pemerintah untuk membentuk Nasional Diaspora Indonesia. Dan juga mengusulkan agar pemerintah memberikan visa minimal 10 tahun untuk diaspora bagi non-WNI. Tak hanya itu, Dino juga meminta pemerintah turut mengkaji ulang moratorium TKI ke Timur Tengah dikarenakan sudah ada banyak negara salah satunya Filipina mengirimkan tenaga kerja ke Timur Tengah, sementara itu pemerintah juga perlu menguatkan perlindungan terhadap TKI. Dan yang paling penting Dino mengusulkan agar pemerintah menetapkan tanggal 8 Juli sebagai hari diaspora Indonesia, dikarenakan ditanggal tersebut pertama kali istilah “diaspora” dicetuskan ke kosa kata publik Indonesia sehingga sampai saat ini sudah menjadi kata yang formal dan konvensional.