Berita Acara Tri Agung Prayitno - 13 November 2017 63

     Taman nasional merupakan suatu kawasan hutan konservasi yang melindungi berbagai macam flora dan fauna di suatu wilayah endemiknya. Flora dan fauna yang di lindungi ini biasanya merupakan jenis yang hampir punah, oleh sebab itu dengan perlindungan kawasan tempat tinggalnya agar tetap sesuai perlu dilakukan. Adanya konservasi kawasan suatu wilayah dengan melakukan pengelolaan menjadi taman nasional ini merupakan upaya untuk meminimalkan kerusakan wilayah hutan dan habitat asli flora serta fauna dari akibat adanya alih fungsi lahan yang semakin banyak dilakukan serta upaya dalam meningkatkan keragaman hayati di dalamnya. Taman nasional yang ada di Indonesia tidak hanya konservasi mengenai kawasan hutan saja, akan tetapi konservasi flora dan fauna endemik yang berada di dalam kawasan hutan tersebut (Nawir dkk., 2008).

Kawasan konservasi berupa taman nasional yang ada di Indonesia memiliki flora dan fauna endemik yang sangat beragam. Bentang alam negara Indonesia yang begitu luas dengan keragaman pulau-pulau eksotik yang tersebar dari sabang hingga merauke membuat jenis flora dan faunanya juga sangatlah beragam serta memiliki ciri-ciri yang unik serta eksotik tiap daerahnya. Salah satu kawasan konservasi wilayah taman nasional yang berupa hutan dan pantai yang ada di pulau jawa, adalah taman nasional meru betiri. Taman nasional meru betiri merupakan kawasan hutan konservasi dan perairan yang terletak di bagian selatan dari kabupaten Jember serta kabupaten Banyuwangi. Adanya cagar alam yang berupa taman nasional merupakan upaya untuk melindungi harimau jawa (Panthera tigris sondaica) agar tidak mengalami punah, hal tersebut di muat dalam surat Gubernur Jenderal nomer 83 pada tanggal 14 agustus tahun 1919 untuk membuat suatu cagar alam pada kawasan Jember selatan (http://balitekdas.org/penelitian/kegiatan/tahun/2015/baca/83/Resolusi-Konflik-Tenurial-diTaman-Nasional-Meru-Betiri-Jember).

     Berdasarkan data dari (Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur Tahun 2007-2011) luas kawasan hutan konservasi taman nasional meru betiri sekitar 28.370 hektar. Secara geografis taman nasional meru betiri terletak antara 113º38’48” - 113º58’30” BT dan 8º20”48” - 8º20”48” LS. Pada kawasan taman nasional ini memiliki iklim Schimdt – Ferguson tipe iklim B dengan memiliki curah hujan sekitar 1300 mm hingga 4000 mm per tahunnya. Hal tersebut membuat kawasan ini menjadi tempat tinggal flora dan fauna eksotis yang sesuai pada iklim tropis (Siswoyo dalam Puspitaningtyas., 2007). Penamaan taman nasional dengan nama “meru betiri” ini di ambil dari dua gunung yang menjulang tinggi di kawasan tersebut, yakni gunung “meru” dengan ketinggian 500 mdpl dan gunung “betiri” 1.223 mdpl (http://www.banyuwangibagus.com/2014/06/taman-nasional-meru-betiri.html).

Kawasan konservasi taman nasional meru betiri memiliki beragam spesies flora dan fauna, mulai dari flora yang dapat hidup di kawasan hutan tropis dataran rendah hingga berbagai macam fauna tipe asiatis. Di kawasan konservasi taman nasional terdapat berbagai macam tipe vegetasi, yaitu vegetasi hutan pantai, vegetasi mangrove, vegetasi hutan rawa, vegetasi hutan rheophyte, dan vegetasi hujan dataran rendah (Kalima.,2008). Ragam fauna yang ada di kawasan konservasi ini seperti rusa, monyet ekor panjang, lutung jawa, anoa, banteng, kucing hutan, burung elang jawa atau yang biasa disebut burung garuda dan masih banyak lagi. Selain fauna yang hidup di darat, pada taman nasional meru betiri juga merupakan kawasan dari penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau (Chelonia mydas), penyu lekang (Lepidochelys olivacea) dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea) dalam meletakkan telurnya.

     Kawasan pantai di taman nasional meru betiri tidak hanya satu, yakni pantai bandealit mulai dari bagian ujung barat taman nasional, kemudian pantai nanggelan, pantai rajagwesi, pantai sukamade dan teluk hijau yang terletak di bagian ujung timur taman nasional ini menjadi deretan pantai yang memiliki eksotika tersendiri. Di kawasan taman nasional ini juga terdapat pulau merah yang merupakan salah satu pulau dengan ombak besar ciri khas dari ombak samudera hindia. Menurut salah satu teman saya (Pandu), yang pernah mengunjungi kawasan taman nasional meru betiri mengatakan bahwa di pantai sukamade merupakan tempat untuk beberapa spesies penyu langka di dunia dalam meletakkan telurnya. Di sepanjang pantai sukamade ini, apabila beruntung kita dapat menemukan telur-telur penyu yang berada di dalam tumpukan pasir. Di sepanjang pantai pada titik tertentu biasanya terdapat papan kayu yang diberi tulisan tanggal tertentu, hal ini merupakan ciri utama bahwa pada titik tersebut terdapat telur-telur penyu yang diletakkan oleh induknya. Papan kayu tersebut sengaja di buat oleh pihak taman nasional agar memudahkan dalam melakukan pengawasan pada telur-telur penyu tersebut. Pantai sukamade merupakan salah satu kawasan yang menjadi tempat favorit dari beberapa jenis penyu yang ada di samudera hindia dan samudera pasifik, khususnya empat spesies penyu yang telah disebutkan dalam meletakkan telurnya.

     Di kawasan taman nasional meru betiri terdapat tiga kawasan hutan, yakni hutan hujan dataran rendah, hutan rawa serta hutan mangrove. Pada kawasan taman nasional ini juga terdapat bunga yang hampir langka yakni bunga Raflesia zollingeriona saat musim hujan. Hal tersebut menjadikan taman nasional meru betiri merupakan kawasan konservasi yang memiliki beragam flora dan fauna dari spesies yang populasinya masih cukup banyak hingga spesies yang sudah hampir punah. Selain bunga raflesia juga terdapat bunga bangkai raksasa endemik Indonesia yang biasa di sebut “kibut” atau “suweg raksasa” dalam nama latinnya yakni Amorphophallus titanium. Bunga bangkai raksasa tersebut dapat tumbuh hingga mencapai tinggi bunga lebih dari dua meter (Supriatna., 2008).

     Bunga Amorphophallus titanium (Sumber : Dokumentasi pribadi) Akses menuju taman nasional meru betiri dapat dilalui dari arah Jember dan arah Banyuwangi. Menurut pengalaman (Pandu) akses menuju kawasan taman nasional yang dari arah jember kota memiliki jarak tempuh sekitar 3 jam untuk sampai ke depan pintu masuk kawasan taman nasional meru betiri denga menggunakan kendaran roda dua. Jarak tempuh tersebut merupakan jarak yang lebih cepat apabila dari arah kota Banyuwangi. Dari arah kota Jember langsung menuju ke arah selatan kota Jember hingga sampai ke kecamatan Ambulu, setelah itu menuju ke arah timur hingga memasuki wilayah perkebunan kota Blater. Perjalanan tersebut terus dilakukan hingga sampai pintu masuk taman nasional meru betiri

     Semua flora dan fauna serta keindahan alam yang ada di kawasan taman nasional meru betiri merupakan sesuatu hal yang memiliki pesona dan keindahan secara eksotik. Setiap insan yang berkunjung ke kawasan konservasi ini akan terpukau dengan ragamnya ciptaan Tuhan, mulai dari pemandangan kawasan pantainya yang masih asri dan menjadi salah satu tempat bertelurnya penyu spesies langka di dunia hingga ragam flora dan fauna endemik yang masih tetap lestari.

 

REFERENSI

Kalima, T. 2008. Profil Keragaman dan Keberadaan Spesies Dari Suku Dipterocarpaceae di Taman Nasional Meru Betiri, Jember. Penelitian Hutan dan Konservasi Alam, 5(2): 175-191.

Nawir, Ani Adiwinata., Murniati dan Lukas Rumboko. 2008. Rehabilitasi Hutan di Indonesia: Akan kemanakah arahnya setelah lebih dari tiga dasawarsa?. Center for International Forestry Research (CIFOR). Bogor-Indonesia.

Puspitaningtyas, D. M. 2007. Inventarisasi Anggrek dan Inangnya di Taman Nasional Meru Betiri – Jawa Timur. Biodiversitas, 8(3): 210-214.

Supriatna, J. 2008. Melestarikan Alam Indonesia. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta-Indonesia.

http://balitekdas.org/penelitian/kegiatan/tahun/2015/baca/83/Resolusi-Konflik-Tenurial-diTaman-Nasional-Meru-Betiri-Jember.

http://www.banyuwangibagus.com/2014/06/taman-nasional-meru-betiri.html.

Similarity index: 18% (Turn It In)

Recent News

Terhangat

Merchandise

Media Social

Facebook




Twitter

Instagram