Kajian Isu Strategis Narendra Ning Ampeldenta - 27 Agustus 2019 100

 

Bicara pemuda seakan tidak akan pernah ada habisnya.  Dilihat dari perannya dalam sejarah berdirinya Indonesia, bisa dilihat bahwa pemuda memegang peranan penting pada segala perubahan dan pergerakan kemajuan di republik ini.  Sejarah mencatat ketika para pemuda Indonesia berkumpul di Jakarta pada tahun 1928 untuk memperkuat kesadaran berbangsa dan mencetuskan sebuah sumpah, yang kini kita kenal sebagai “Sumpah Pemuda”.  Didesaknya Presiden Soekarno untuk segera mempercepat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia juga dinilai sebagai salah satu tanda betapa pentingnya gerakan kepemudaan.  Tidak salah bahwa anak muda dianggap sebagai agent of change, atau agen perubahan.

Namu, saat ini zaman telah berubah sangat cepat.  Permasalahan yang dihadapi anak muda dari generasi ke generasi pun jelas berbeda.  Jika pemuda di waktu itu berjuang untuk merebut Kemerdekaan Indonesia, saat ini Pemuda Indonesia berjuang, tidak hanya untuk mempertahankan, juga terus bergerak kedepan dan terus berinovasi ditengah perubahan zaman dan cepatnya perkembangan teknologi.  Gerbang revolusi industri sudah didepan mata.  Dan kehadirannya akan membuat beberapa pekerjaan  tergantikan.  Anak muda dituntut untuk selalu berkembang dan belajar untuk bisa beradaptasi dengan perkembangan yang serba cepat tersebut.

Ironisnya, meskipun angka pengangguran terbuka menurun, menurut data BPS yang dilansir belum lama ini, menunjukan bahwa angka pengangguran ditingkat diploma dan sarjana justru meningkat.  Pada tingkat sarjana pun cukup mengkhawatirkan, yakni sebesar 25 persen.  Belum selesai urusan mencari kerja yang sulit, saat ini beban pun bertambah dengan perkembangan Teknologi yang membuat anak muda harus terus belajar dan meningkatkan kemampuan untuk bisa terus beradaptasi.  Kemampuan yang relevan di tahun ini, tidak menjadi garansi untuk tetap relevan pada lima sampai sepuluh tahun yang akan datang.  Ini adalah sebagian dari beberapa permasalahan yang dihadapi kaum muda.  Ironisnya lagi, cukup banyak anak muda yang terlambat untuk concern terhadap isu tersebut, sehingga mereka terlambat untuk mempersiapkan diri.

Menumbuhkan kesadaran akan hal tersebut, saling mengingatkan sesama teman segenerasi untuk sama-sama mempersiapkan diri ditengah perubahan zaman dipandang menjadi salah satu kunci terbaik.  Anak muda terkadang butuh sebuah gong kesadaran dari sekitar.  Tentunya kita tidak bisa terus-menerus menunggu pemerintah bergerak, sudah menjadi kewajiban bagi kita anak untuk terus berupaya mendesak pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang peduli terhadap perkembangan pemuda di Indonesia.  

Caranya tidak melulu harus turun ke jalan. Terlebih saat ini kita tidak bisa lepas dari media sosial, yang tanpa kita sadari bahwa “The Power of Social Media” telah berhasil membuat gerakan-gerakan perubahan dilingkungan masyarakat, mulai dari penggunaanya sebagai sarana untuk menggalang dana bencana, sampai petisi untuk mengkritisi program pemerintah.  Apalagi bonus demografi Indonesia, yang mana jumlah usia produktif dari rentang usia 15 sampai 64 tahun, terbentang di depan mata.  Bonus demografi inilah yang dianggap sebagai salah satu tonggak kemajuan bangsa Indonesia dan pemuda mempunyai peran sentral dalam perkembangan Bangsa kedepan. 

Di samping masalah cepatnya zaman berubah karena perkembangan teknologi, isu-isu terkait kebebasan berekspresi, juga yang terkait dengan isu SARA dan mulai pudarnya rasa kebhinekaan ditengah masyarakat saat ini menjadi beberapa hal penting yang mengoyak rasa persatuan di Indonesia.  Dalam hal ini, pemuda harus harus aktif untuk menyuarakan rasa persatuan dan rasa rasionalitas kepada masyarakat luas.  Dimulai dari lingkungan sekitar, juga bijak untuk menggunakan media sosial sebagai saran menyebarkan semangat persatuan dan kebhinekaan.

74 tahun tentunya bukan usia yang tidak muda lagi bagi Indonesia.  Generasi-generasi tua akan berganti dan diteruskan oleh anak-anak muda sebagai penerus tongkat estafet kemajuan bangsa.  Saatnya anak muda berdaya, sebagai generasi yang selalu belajar dan beradaptasi dengan perubahan zaman, dengan tanpa melupakan nilai-nilai budaya Indonesia, menjunjung tinggi persatuan, dan menjadi motor penggerak yang selalu menyebarkan rasa kebhinekaan.

 

(Ketua Komisi Kepemudaan, Pusat Kajian dan Gerakan, PPI Dunia 19/20)