Berita Acara - 07 September 2019 90

apu1_1

Para panitia berfoto bersama dengan siswa-siswi (Foto: PPI APU)

 

“Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”. Dikutip dari pasal 31 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, semua warga negara Indonesia berhak mendapatkan akses untuk mendapatkan pendidikan bahkan di luar negeri.

Senin (17/07/19) Persatuan Pelajar Indonesia Asia Pacific University, yang lebih dikenal sebagai AUISS, menggelar sebuah kegiatan yang membawa misi sosial. Nurture Indoneisa: Mahasiwa Mengabdi adalah sebuah kegiatan yang dilaksanakan selama tiga hari di Pusat Pendidikan Warga Negara Indonesia (PPWNI) Pelabuhan Klang, Selangor, Malaysia. Kegiatan ini sendiri adalah ajang kolaborasi yang diinisiasi oleh PPI APU dengan menggandeng PPI Internasional Islamic University Malaysia (IIUM), PPI HELP University dan PPI MSU (MIS) sebagai relawan atau volunteer. Kegiatan ini dilatar belakangi oleh kesadaran para mahasiswa-mahasiswi Indonesia akan pentingnya pendidikan untuk anak-anak Indonesia, tidak terkecuali anak-anak Indonesia yang berada di luar negeri. Kegiatan ini menyasar adik-adik dari keluarga TKI yang kurang beruntung dalam rentang umur 6-15 tahun.

Profil PPWNI, Klang

Dididrikan tahun 2008 oleh YM, Raja Kamaruddin dan Jendral Polisi (Purn.) Da’i Bachtiar (Duta Besar Indonesia untuk Malaysia tahun 2008), PPWNI dulunya bernama Insan Malindo. Sekolah ini didirikan untuk menjadi sentral belajar untuk anak anak peranakan Indonesia-Malaysia yang kala itu belum memiliki tempat serupa dan tidak bisa menempuh pendidikan di sekolah kebangsaan. Berbasiskan nilai nilai religius, sekolah ini berkembang menjadi salah satu tempat anak-anak kurang beruntung untuk menempuh pendidikan.

PPWNI, Klang Hari Ini

Sekolah ini hanya memiliki 4 ruang kelas yang dialokasikan untuk ruang belajar 150 anak dengan tingkatan yang berbeda. Tenaga pengajar di sekolah ini pun sangat minim, hanya ada 3 guru pengajar termasuk kepala sekolah. Dengan 3 pengajar, setiap hari sekolah ini harus memfasilitasi kegiatan belajar mengajar 4 kelas di waktu yang bersamaan.

Keprihatinan juga terlihat dari kondisi sekolah ini yang berada di Lingkungan apartemen kumuh. Terlihat banyak sekali sampah-sampah di area terbuka yang menjadi pemandangan sehari-hari untuk adik-adik peserta didik disekolah ini. Sudah 11 tahun berdiri tetapi sekolah ini masih belum bisa berkembang menjadi sentral edukasi yang layak untuk anak-anak Indonesia. Hal ini juga disebabkan oleh masalah legalitas dan birokrasi yang menyulitkan pihak sekolah untuk mendapatkan hak-haknya. Sudah berkali-kali pengelola sekolah mendatangi perwakilan pemerintah Indonesia di Malaysia untuk menagih hak-haknya namun pihak terkait masih memberikan respons yang minim. Terlebih lagi masih terlihat minimnya fasilitas dan kurangnya perhatian yang diberikan oleh pihak perwakilan pemerintah kepada sekolah yang dikepala sekolahi oleh Wardani ini.

Latar belakang siswa-siswi dari sekolah ini juga menjadi pertimbangan pemilihan PPWNI, Klang sebagai sasaran kegiatan ini. Menurut tenaga pengajar di sana, banyak dari orang tua murid disana merupakan PATI atau Pendatang Asing Tanpa Izin. Degan kata lain, mereka tidak memiliki izin tinggal yang jelas. Untuk masalah ini, pihak sekolah sudah berupaya menjadi penengah antara pihak pemerintah dengan wali murid di sekolah dalam pengurusan surat-surat perijinan, tetapi masih ada syarat-syarat yang menyulitkan.

Detail Kegiatan

Kegiatan ini diisi dengan beragam macam aktivitas menarik oleh para mahasiswa-mahasiswi seperti mengajar, bermain, serta tentunya memberikan donasi berupa dua set PC kepada sekolah tersebut. Akan tetapi kegiatan ini lebih memfokuskan pada kegiatan mengajar yang mana sangat disambut baik oleh para murid-murid di sekolah tersebut. Terlebih lagi kegiatan mengajar ini juga sangat interaktif bagi para murid seperti dengan adanya sesi tanya-jawab bahkan mengajar sembari menggambar dan bernyanyi. “Kegiatan mengajar yang dilakukan biasanya diisi oleh 3-4 mahasiswa dalam satu kelas dan para adik-adik sangat antusias untuk berpartisipasi” ujar Afreidha Cetta selaku ketua pelaksana. Kegiatan mengajar ini menfokuskan pada 3 mata pelajaran yaitu wawasan kebangsaan, ilmu pengetahuan umum dan keagamaan karena dianggap sangat krusial untuk adik-adik ini dimasa yang akan datang kelak.


apu1

Potret kegiatan mengajar yang dilakukan para mahasiwa (Foto: PPI APU)

Respons Kegiatan

            Pihak sekolah sangat antusias dan mengapresiasi kegiatan ini karena dinilai sangat membantu tenaga pengajar di PPWNI, Klang. Pihak sekolah ingin, dengan adanya kegiatan seperti ini, teman-teman mahasiswa bisa lebih peduli terhadap lingkungannya. Mahasiswa dituntut turut andil untuk mengabdi untuk mewujudkan pendidikan yang lebih baik untuk anak-anak Indonesia di seluruh dunia.

Menurut Kevin Angdreas, selaku Presiden PPI-APU (AUISS) juga berpendapat bahwa kegiatan seperti ini sangat penting sebagai wujud aksi mahasiswa yang memilih untuk tidak tinggal diam melihat kondisi-kondisi dilingkungannya yang kurang ideal. Masih banyak sekolah-sekolah lain yang bahkan mungkin nasibnya lebih kurang beruntung daripada PPWNI, Klang dan kita sebagai mahasiswa punya pilihan untuk bersikap acuh atau ikut berpartisipasi aktif mewujudkan Indonesia yang benar-benar merdeka.

Harapan dan Saran

Pada akhirnya, Kevin dan juga segenap pengurus lainnya berharap bahwa dengan adanya kegiatan ini dapat memicu gerakan-gerakan baru dengan semangat belajar mahasiswa yang berada di luar negeri dan juga memacu lagi semangat PPI untuk mengedukasi sesama yang membutuhkan. (RA, RAN)