Berita Acara - 11 November 2017 203

Kuala Lumpur (10/11) - Perhelatan ID Fest yang diselenggarakan oleh PPI Universiti Malaya merupakan rentetan acara-acara yang diselengarakan oleh PPI Malaysia maupun PPI cabang lainnya. Acara yang diselenggarakan di Main Auditorium Perdana Siswa UM ini berlangsung sangat meriah.
 
Undangan yang datang tidak hanya dari pelajar Indonesia yang berada di Malaysia. Akan tetapi, pelajar mancanegara yang sedang menimba ilmu di universitas terbaik di Malaysia tersebut juga turut hadir memeriahkan acara ID Fest.
 
Seperti acara pada umumnya, acara ID Fest diawali dengan kata sambutan oleh ketua panitia, perwakilan UM, dan perwakilan KBRI.
 
Dalam pembukaannya, ketiganya memberikan kata sambutan yang hampir sama yakni ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mensukseskan acara tersebut, kepada pantia yang telah bersusah payah dalam proses penyelanggaraan, serta para tamu undangan yang telah menyempatkan diri untuk hadir dalam acara ID Fest di Universiti Malaya. Selebihnya lagi, acara ID Fest diselenggarakan atas inisiatif PPI UM untuk mengenalkan budaya Indonesia kemata dunia dan juga sebagai suatu proses pembelajaran di kalangan mahasiswa Indonesia agar lebih memaknai dan melestarikan budaya Indonesia.
 
Setelah kata sambutan, acara ID Fest dilanjutkan dengan berbagai penampilan seni tari di Indonesia. 
 
Tari saman merupakan penampilan pertama yang disuguhkan oleh pantia penyelenggara. Benar saja, gerakan perubahan dan gerakan tangan yang cepat dalam tari tersebut mampu membuat decak kagum para penonton dan undangan yang berujung tepuk tangan gemuruh.
 
Setelah tarian saman, acara dilanjutkan dengan kisah Treta Yuga yang diramu menjadi tarian. Tarian yang menampilkan kisah Hanoman tersebut kemudian dikombinasikan dengan tarian khas Bali yakni Legong dan Kecak yang membuat mata semakin tidak bisa berhenti menatap penampilan tersebut. Hal ini semakin menambah gegap gempita penyelenggaraan acara ID Fest.
 
Tidak hanya sampai disitu, acara kembali menyuguhkan penampilan drama tentang Indonesia pada tahun 1920. Dalam penampilannya, para tamu seolah-olah berada pada zaman 1920-an. Terlebih lagi, drama tersebut diakhiri dengan lagu romantika-romantika pada zaman tersebut, sehingga membuat penonton semakin larut dalam suasana.
 
Setelah berhasil membawa para penonton ke zaman 1920, kali ini ID Fest membawa penonton ke zaman 1950. Pada simulasi tahun 1950, ID Fest menampilkan nyanyian klasik dan nyanyian terbaru yang dinyanyikan oleh pelajar Indonesia. Hal ini, membuat penonton semakin tidak bisa beranjak dari tempat duduknya.
 
Untuk membuat acara lebih interaktif, para panitia membuat satu permainan yang terdiri dari 3 orang laki-laki dan 3 orang perempuan. Dalam permainannya, setiap individu wajib menjaga sarung yang digunakan tetap terikat, sembari wajib melepaskan ikatan lawannya. Permainan tersebut menghasilkan 1 orang pemenang lelaki dan 1 orang pemenang perempuan.
 
Acara kembali dilanjutkan ke tahun 1980. Pada tahun tersebut, terjadi lakonan drama singkat yang dikombinasikan dengan nyanyian dan tarian. Uniknya, dalam tarian ini para penari tersebut menggunankan baju SMA, sehingga membawa suasana para pelajar Indonesia ke romansa zaman SMA.
 
Acara yang berlangsung selama 3 jam ini pun diakhiri dengan penampilan dari seluruh panitia. Tak lupa, ucapan terima kasih yang mendalam disampaikan Hafist, sebagai ketua PPI UM kepada seluruh tamu dan para undangan yang hadir. Ianya juga berharap seluruh pelajar indonesia dimalaysia tetap menjaga tali silatuhrahmi dan memegang teguh pesatuan serta semangat nasionalime. (doni/fasya)

Recent News

Terhangat

Merchandise

Media Social

Facebook




Twitter

Instagram