Sumbangan Tulisan Afifah Dinar - 09 Maret 2018 399

Foto saat menghadiri Simposium  

Menapakkan kaki untuk pertama kali di bumi Ali Jinnah, Pakistan. Sungguh pengalaman yang akan terus diingat dan diceritakan untuk anak cucu kelak. 

Tahun ini simposium Timur Tengah dan Afrika  diselenggarakan di Islamabad Pakistan, 1 maret – 5 maret.  Acara yang bertemakan “Membumikan Nilai Islam dalam Praktik Bisnis Modern di Indonesia” ini  dihadiri oleh beberapa pakar ekonomi dari Indonesia. Seperti, Muhammad Syafi’i Antonio, Andreas Senjaya dan Bambang Suherman. Serta Pakar ekonomi dari Pakistan, Dr.Atiq uz Zafar. 

Hasil dari  diskusi panel selama 3 hari ini akan  melahirkan pemikiran akademis bagi pengembangan dan penguatan pengkajian terhadap teori dan aplikasi sistem ekonomi islam pada praktik bisnis modern di Indonesia. 

Acara hari pertama dibuka dengan “City Tour of Islamabad” agar para delegasi lebih akrab dan mengenal sedikit tentang culture di Pakistan. Ada beberapa tempat yang menjadi destinasi, yaitu :  Lake view park, Masjid Faisal dan Monumen Pakistan. 

Sedikit mengenai masjid faisal, masjid ini terletak di kaki bukit margalla di Islamabad. Bergaya timur kontemporer yang terdiri dari delapan sisi cangkang beton. Pembangunan masjid ini dimulai pada tahun 1976 setelah mendapat hibah $120 juta dari raja faisal dan di desain oleh arsitek turki Vedat Dalokay.  

Jum’at berkah di tanggal 2 maret ini membuka diskusi panel dengan keynote speaker Dr. Syafi’I Antonio, M.Ec . Beliau memberikan gambaran bagaimana keadaan ekonomi islam di indonesia. Juga beberapa Negara sebagai role model dalam penerapan ekonomi syari’ah.

Beliau juga menambahkan bagaimana keterlibatan beberapa pihak yang menghambat perkembangan enonomi syari’ah di Indonesia .Dengan adanya Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS). Lebih dari itu, karena Presiden juga menjadi Chairman of  KNKS. 

Di dalam diskusi panel ini, kami perwakilan dari mahasiswa yang berkuliah di luar negeri dan BEM dari Indonesia berdiskusi bagaimana peran kami di berbagai jurusan kuliah untuk ikut ambil andil dalam perkembangan ekonomi syari’ah terlebih jarak kami yang jauh dari Indonesia.

Setelah sholat ashar, kami dibagi menjadi 3 kelompok dan setiap kelompok akan mendiskusikan tentang Negara-negara yang telah menerapkan ekonomi syari’ah seperti Malaysia, Turki dan UAE . Hasil dari diskusi akan kami presentasikan dan melihat potensi apa saja yang bisa Indonesia terapkan. 

Di hari ketiga, diskusi panel bertema Star up berbasis islam : The Dynamic of Modern Business as Triggers of Islamic Software ini lebih dekat dengan anak muda yang diisi oleh Bambang Suherman, Director of Dompet Dhuafa. Kemudian dilanjutkan dengan diskusi panel ketiga oleh Evilita founder Ojesy dan Andreas Sanjaya founder I Grow yang juga dimoderatori oleh M. Rajiev Syarif (PPI Malaysia).

Diskusi ini sangat hangat dengan sedikit bumbu-bumbu humor. Penjelasan yang ringan tapi membakar semangat anak muda untuk mendedikasikan dirinya untuk Indonesia dari berbagai cara, salah satunya star-up yang banyak bermanfaat untuk banyak orang. 

Dihari keempat adalah penutupan sekaligus historical trip to Lahore. Kami banyak mendapat ilmu mengenaSejarah peninggalan islam di Pakistan. Tanggal 5 maret, adalah jadwal kepulangan kebanyakan delegasi. Walapun masih ada beberapa delegasi yang ingin stay di Pakistan lebih lama lagi.

Hasil diskusi panel selama 3 hari ini telah melahirkan pemikiran akademis bagi pengembangan dan penguatan pengkajian terhadap teori dan aplikasi sistem ekonomi islam pada praktik bisnis modern di Indonesia. 

 

“Langkah besar itu dimuai dari langkah-langkah kecil kita”

Syafi’e Antonio

 (Afifah/Bella)

Terhangat

Media Social

Facebook




Twitter

Instagram